Tuesday, November 15, 2005

Takut Flu Burung?? Tidak Juga...

Orang-orang kampung ini benar-benar tidak takut sama sekali dengan flu burung. Bayangkan, beberapa hari yang lalu sebuah peternakan, ayamnya mati mendadak semua. Eh, bukannya waspada, malah ayam-ayam sakit yang masih hidup dipakai pesta pora. Belum pernah mendengar tentang flu burung?? Tidak juga rupanya...

Pulang ke kampung halaman selalu membawa kesan tersendiri. Lumayan tahun ini perusahaan memberi cuti lebaran cukup lama. Alhasil, waktu libur 2 minggu yang diberikan benar-benar dimaksimalkan untuk menikmati kampung halaman. Kapan lagi..?

Ada pengalaman mendebarkan waktu keluar masuk kampung yang letaknya di bawah bukit di pedalaman Jawa tengah itu. Di sela-sela sawah yang menghijau menghampar, tersembul beberapa peternakan ayam petelor. Juga di samping bangunan rumah-rumah pun banyak terlihat kandang ayam dalam skala cukup besar, artinya bukan sekedar beternak untuk kebutuhan pribadi saja. Waktu pertama kali melihat fenomena itu, saya sedikit terkejut juga. Soalnya tahun lalu peternakan ayam belum terlalu menjamur seperti sekarang ini. Jadi waktu melihatnya, langsung teringat betapa mencekamnya pemberitaan soal flu burung di Jakarta..

Saya coba keluyuran mencari info. Warga kampung mengaku sudah pernah mendapat penyuluhan soal flu burung. Dari pemberitaan di TV pun mereka sepertinya sudah tidak awam lagi soal virus H5N1 nan ganas ini. Namun justru yang paling mengherankan adalah komentar mereka soal hal ini.

"Flu burung itu kan menjangkit pada orang yang kondisi tubuhnya tidak bagus, lha kalu kita-kita ini badan item gempal begini, virusnya liat kita saja takut.."kata Wagiman yang juga punya peternakan burung dara itu enteng.

Komentar kang Tutor tentang matinya ternak ayam secara mendadak yang banyak terjadi akhir-akhir ini lebih mencengangkan lagi,"Kemarin ayam satu peternakan mati, kami makan ramai-ramai tidak apa-apa tuh. Selama belum ada orang sini yang mati karena flu burung, tenang-tenang sajalah.. Buat apa takut?"

Mungkin mereka memang tidak takut karena menyadari stamina tubuhnya yang kuat-kuat akibat kerasnya tempaan hidup di desa. Atau bisa jadi karena mereka tidak menyadari benar pentingnya kewaspadaan dan kehati-hatian menghadapi virus ini. Sekedar penyuluhan saja rupanya belum cukup menyadarkan warga. Buktinya tiap sore anak-anak muda masih dengan bebas dan asiknya menikmati aktifitas 'tomprang' saling mengadu burung dara milik mereka... Tidak ada wajah-wajah kuatir walaupun di belahan bumi lain korban berjatuhan dengan memilukan...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home