Thursday, December 29, 2005

Makanan Bergizi, Makanan Sehat ...

Acara makan siang biasanya jadi acara refreshing sekaligus isi `bahan bakar`. Sayangnya, setelah sekian tahun mencicipi aneka masakan di seputar Sudirman, kebosanan menjadi masalah besar. (Aduh, kami ini memang tidak bersyukur, maafkan aku Tuhan, karena telah menyebut kata bosan, padahal ada orang lain, jangankan untuk memilih mendapatkan sekedar makanan untuk pengisi perut saja susah...)

Tapi terlepas dari masalah bosan, tadi siang tiba-tiba menjadi acara makan siang paling membingungkan. Berdiri di depan ibu kantin sambil menunjuk sayur lodeh, saya langsung mendaulat ikan goreng sebagai pedamping utama menu andalan hari ini. Tapi belum juga tangan Si Ibu menyodorkan ikan goreng favorit, artikel di KCM tadi pagi `Kami Terpaksa Menggunakan Formalin..` http://www.kompas.com/kesehatan/news/0512/29/072208.htm membuat saya langsung berubah pikiran. Selamat tinggal ikan kaya gizi, rendah kolestrol dan mengandung omega 3 kecintaan saya..

Sebelumnya saya sudah cukup pusing harus menyingkirkan tahu dalam daftar menu gara-gara informasi tahu mengandung formalin. Hari ini mencermati pergerakan BB-POM, sederet makanan favorit terindikasi mengandung formalin. Dimulai dari tahu, ikan segar, ikan asin, mie,dan baru saja saya baca di detik, petis pun mengandung formalin!

Makin susah saja memilih makanan sehat dan bergizi. Satu demi satu makanan bergizi berubah menjadi petaka gara-gara zat kimia pengawet, pewarna, pencerah...

Salah siapa?? Ruwet sekali mencari jawabannya. Yang menjadi keheranan paling besar adalah, mengapa sih zat-zat kimia tersebut sangat mudah didapatkan? Harusnya zat-zat kimia yang banyak dipakai untuk kepentingan industri atau medis disalurkan oleh satu badan saja, yang berwenang mengontrol siapa yang berhak menggunakannya. Kalau melihat akibat yang ditimbulkan dari mengkonsumsi makanan yang mengandung formalin, salah satunya, bukankah sama bahayanya dengan kalau kita mengkonsumsi narkoba misalnya..?

Mungkin dengan pengawasan dan kebijakan penyaluran yang ketat bisa meminimalisir penggunaan zat-zat tersebut yang tidak pada tempatnya (semoga). Wong mereka yang menggunakan tokh sebenarnya sudah tahu bahayanya kok.. Jadi kalau jalur pemberian informasi mengenai bahayanya sudah tidak efektif lagi karena pilihan mereka menggunakan zat tersebut dipicu oleh faktor terjepit, ya.. jalan satu-satunya harus dengan memperketat peredarannya.

Yah, begitulah.. Seperti kata Dr. Erik Tapan, pada akhirnya pintar-pintar kita sajalah untuk memilih makanan yang bergizi dan sehat..

2 Comments:

At Thursday, December 29, 2005 8:56:00 PM, Blogger Dani Iswara said...

yg penting..waspadalah..waspadalah [copyright by bang napi]..hrs ditanggulangi dgn kemitraan..bukan cuman kerjaannya bdg kesehatan..tp ekonomi jg..industri..hukum..dll..

 
At Monday, January 02, 2006 11:58:00 PM, Blogger Erik Tapan said...

Dear Eptia,
Bravo atas tulisannya yang menarik.
Rajin-rajin donk nulisnya.

Ditunggu....

 

Post a Comment

<< Home