Tuesday, December 27, 2005

Pada Hari Itu...

27 Desember 2004 lalu, seorang sahabat dikirim ke Aceh bersama tim dokter Jakarta untuk membantu korban tsunami. Hari ini, lewat setahun setelah kejadian itu aku baca lagi sms-smsnya selama disana. Aku tetap menyimpan sms-sms itu, untuk membuat aku selalu ingat rencana Tuhan yang maha dasyat.

Kejadian itu begitu jauh dari tempat kita tinggal. Bahkan pada hari itu, 26 Desember - tepat pada saat kejadian itu berlangsung-, merupakan salah satu hari terbaik kami. Tidak pernah sedikitpun terbersit, jauh di belahan bumi tempat saudara-saudara kita berpijak, maut sedang memainkan perannya.

Aku tidak akan pernah lupa
Pada hari itu
Dimana hatiku diketuk
Menangis bahagia aku dalam satu waktu

Lalu apakah ini
Yang kemudian menyayat hati

Aku tidak pernah melihat
Di TV atau di manapun itu
Mayat-mayat bergelimpangan mencari pegangan
Air pelepas dahaga menjadi hitam
Karam
Tenggelam
Hilang

Jika saja air mata cukup
Menuntaskan sesak
Kata-kata hilang terbang tanpa makna
Jeritan tiada lagi terdengar
Mata tak lagi dapat melihat

Kami yang dipenuhi kesombongan
Tertegun pada satu kenyataan

Engkau ada
Dalam hati setiap jiwa


Salah satu sms sahabatku menyiratkan kelelahan dan perasaan bersalah yang terus menerus menderanya. Rasanya, segala hal yang sudah dilakukan tidak cukup membantu mereka. Masih banyak orang-orang yang harus ditolong, ibu-ibu, anak-anak... Ungkapan hatinya itu dikirim di kali ketiga keberangkatannya ke Aceh. Aku juga banyak menerima curahan hati serupa dari relawan yang pulang dari sana .

Kemudian, ia untuk pertama kalinya melihat Calang. Bagi siapa pun yang disana pasti tidak akan pernah lupa. Sekali itu kita benar-benar `melihat`. Sekali itu kita dibenamkam pada kesombongan kita. Apalah kita, hanya manusia kecil, sombong dan suka ribut sendiri bertikai setiap hari tiada henti...

Saat tiba-tiba saja semua berubah dalam sekejap. Kita lupakan segala perbedaan, dan temukan kembali sisi kemanusian kita yang entah sudah kita ekspor kemana. Bersatu bersama orang-orang yang tidak kita kenal, yang sebelumnya kalau bertemu di jalan mungkin kita enggan untuk menyapa. Lintas pulau dan benua kita bekerja sama. Aku juga banyak mendapatkan sahabat baru waktu itu. Kami rutin berkorespondensi melalui email saling bertukar pikiran sampai sekarang. Teman-teman dokter, media, arsitek dan masih banyak lagi..

Untuk dokter Mangatas di RS Sanglah Bali, terima kasih untuk segala informasi dan sharingnya..

Untuk sahabatku, aku bangga kamu ada disana. Semoga Tuhan masih memberi kekuatan,kesehatan dan mempercayai kita untuk ikut andil positif dalam setiap rencanaNya....

Kesedihan itu selalu menyeruak. Tapi coba lihat, mereka begitu kuat menapaki masa depan. Tidak ada yang pernah benar-benar hancur. Karena rahasia ini menuntun kita pada kekuatan baru dan kesadaran hakiki, menjadikan hidup kita menjadi jauuuh lebih bermakna.

Apalagi yang bisa lebih baik dari itu..???

0 Comments:

Post a Comment

<< Home