Wednesday, December 21, 2005

Runyamnya Negeriku Tercinta…

Hanya Tuhan yang tahu bagaimana menyelamatkan negeri ini. Kedengarannya pasrah sekali, tapi memang itulah kata-kata yang akhirnya terdengar sebagai penutup di setiap perbincangan masyarakat pada topik-topik hangat yang tak ada habisnya menghiasi halaman depan media massa kita. Pedihnya lagi, helaan nafas berat yang seakan melebihi beban itu sendiri selalu menyertai.

Efek kenaikan BBM pertama kali saya rasakan sewaktu naik ojek langganan dalam perjalanan ke kantor. Tidak biasanya Mang Ojek nunduk-nunduk sebelum mengangkut saya. Ujungnya, “Maaf Mbak, berhubung BBM naik, yah…”

Dia memang tidak melanjutkan kata-katanya, tapi dalam komunikasi canggih kami, kata-kata yang terpotong itu berarti kenaikan ongkos dari Dua Ribu Rupiah menjadi tiga ribu. Signifikan dengan kenaikan BBM? Kalau dalam hitungan matematika saya sih, jelas tidak..Tapi siapa yang mau memperdebatkan kenaikan seribu rupiah untuk perjalanan ke Sudirman yang tak lebih dari tiga menit itu?

Seorang teman menyarankan untuk jalan kaki saja, murah, sehat dan sedikit berkeringat tentunya. Ok juga sih idenya, tapi kalau semua orang memilih melakukan hal yang sama, bisa-bisa para tukang ojek itu beralih profesi menjadi kriminal. Jadi, demi mempertimbangkan efek negatif membengkaknya pengangguran dari sektor bisnis ojek, kami pengguna jasa ojek memutuskan untuk tidak ikut berdemo menentang kenaikan ongkos ojek. Sepakat..

Masih dalam perjalanan ke kantor, ibu-ibu yang mengerumuni tukang sayur sibuk berceloteh melancarkan protesnya, sedikit membuat macet di jalan kecil yang jadi alternatif menghindari 3 in 1. Sebabnya sudah jelas sekali terbaca dari wajah tukang sayur yang hari itu dengan kecut melancarkan jurus andalan. Ya gimana lagi, BBM naik otomatis semua naik bu..

Sampai di kantor, menikmati sepuluh menit sebelum jam masuk kantor , saya sempatkan melahap aneka berita melalui internet. Aceh sudah tidak mendominasi pemberitaan rupanya. Media lebih menyukai aksi demo BBM yang marak dimana-mana. Kasus Munir yang sempat tenggelam, mulai menghiasi halaman-halaman situs berita lagi. Dalam perjalanan ke Bandung minggu lalu, saya membaca kasus Munir yang dijadikan liputan Utama sebuah majalah. Syukurlah, kalau media massa masih terus-menerus memuat beritanya minimal yang berwenang tidak akan terburu-buru untuk mempeti-eskannya. Masyarakat masih terus memperhatikan Bung!

Setelah kasus TKI illegal yang didepak dari Malaysia, media punya bahan berita lagi yang lebih seru. Kasus Ambalat kemudian terbukti manjur menyulut `nasionalisme` bangsa yang suka tawuran dan aneka jenis pertikaian ini. Orang-orang berkerumun menyerukan `ganyang Malaysia`. Cyber war merajalela, korban yang jatuh tidak pandang bulu lagi. Bahkan bendera Malaysia diinjak-injak dan dibakar. Suasananya nyaris membuat bulu kuduk berdiri.

Sementara mengintip pemberitaan di media massa Malaysia, Perdana Menteri Malaysia menyerukan untuk tidak membalas aksi-aksi yang dilancarkan di Indonesia. Wahh, simpatik sekali ya kedengarannya. Apalagi melihat senyum Menlu Malaysia Syeh Hamid Albar sewaktu mengadakan pertemuan dengan pemerintah Indonesia. Walaupun dari ulasan Kompas minggu kemarin, jelas-jelas tetangga kita sedang kurang ajar.

Kurang ajar bukan berarti tidak bisa mengemas kesan menjadi positif bukan? Jadi sekali lagi kita harus menghadapi ujian berat, karena lagi-lagi kemampuan diplomasi kita tidak didukung dengan kemampuan pembangunan image yang baik. Padahal akan sangat diperlukan kalau masalah ini sampai ke tangan Mahkamah International. Tapi apa daya kalau pembangunan mercusuar di pulau-pulau terluar kita saja baru dibangun setelah kedaulatan kita diusik. Jadi jangan ditanya bagaimana pembangunan dan pemberdayaan pulau-pulau tersebut selama ini. Nanti rasanya seperti menelan pil harapan palsu saja, pahit rasanya, meracuni jiwa pula.

Kita cenderung skeptis dengan setiap penyelesaian masalah yang dijanjikan pemerintah. Ke depan, media massa kita masih akan terus diwarnai topik-topik hangat yang menyesakkan dada. Diselingi dengan kenyataan yang terus menyeruak, korupsi masih terus menggerogoti setiap lini, illegal logging, pembunuhan dimana-mana. Runyam sekali negeri ini..

Di tengah segala kerunyaman ini, hidup tetap bergulir. Pikiran positif yang tinggal sedikit ini mudah-mudahan masih bisa memberikan sinergi untuk menyelamatkan negeri ini. Nasionalisme kita tidak harus ditunjukkan dengan semangat ganyang Malaysia saja. Jika kita bisa kembali mendedikasikan diri pada bidang kita masing-masing, berkaca pada negara-negara yang mampu bangkit dari keterpurukan, prihatin dan berjuang keras, rasanya Indonesia yang disegani dan diperhitungkan di dunia international bukan lagi sekedar mimpi. Dan semoga, halaman depan media massa kita tidak lagi dihiasi berita-berita panas.

Rindu rasanya pada jaman saya masih SMP dimana sebuah issue panas bisa bertahan berhari-hari, tidak seperti sekarang ini sehari bisa berganti-ganti berita panasnya.

Jadi, marilah kita berhenti bermimpi di siang bolong, ganyang koruptor sajalah!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home