Wednesday, January 18, 2006

Anak-anak Itu...


Bintang, gift from my sweet sista

Seorang teman mengirimkan email ini (thks Vera). Membacanya, perut langsung terasa mual. Marah, sedih, mengaduk-aduk sesak. Bagaimana mungkin manusia menjadi sehina ini? Sedangkan binatang saja tetap menghormati esensi penciptaannya?


ANAK-ANAK ITU PERGI DENGAN LUKA

LUPAKAN sejenak kepedihan Lintar. Lihatlah kegemparan yang meledak di Perumahan Sengkang, Cilincing, Jakarta Utara, pada suatu pagi Senin dua pekan lalu. Warga menemukan pemandangan mengenaskan. Riska Rosiana, 7 tahun, meninggal di rumahnya dengan sebagian tubuhnya sudah dikerumuni semut. Di rumah petak itu pelajar kelas dua Madrasah Al-Islamiyah tersebut tinggal bersama ayahnya, Daeng Amran, 55 tahun, dan ibu tirinya, Idawati, 39 tahun, dan seorang adik tirinya yang berumur 14 bulan.


Riska meregang nyawa dengan kepedihan. Malam sebelum ia meninggal, ia diperkosa dan disodomi oleh adik ibunya, Ambo Ase, 25 tahun, di kamarnya.

Tindakan sang paman membuat Riska menangis kesakitan. Gadis cilik ini membawa tangisnya ke ruang tamu. Bukannya bantuan yang datang, tangis itu justru membuat Idawati murka.

Idawati naik pitam dan membekap mulut Riska dengan kain dan kemudian mencekiknya. Riska terdiam. Idawati, yang menyangka bocah perempuan itu sudah tertidur, segera meninggalkan Riska. Ia tak sadar, saat itu bocah malang tersebut sudah menjadi mayat.


Kepada tetangganya, Idawati dan Amran, suaminya, yang baru pulang pada pagi hari, menyatakan Riska meninggal karena sakit. Tapi sejumlah warga yang curiga melaporkan peristiwa tersebut ke polisi. Polisi datang dan mengirim mayat itu ke RSCM. Dokter Mun'im Idris, pakar forensik yang melakukan autopsi terhadap jasad Riska, memastikan: bocah malang itu meninggal karena kehabisan napas akibat cekikan. "Ada bekas kuku di dekat telinganya," kata Mun'im.


Idawati dan Ambo kini mendekam di tahanan Polsek Cilincing. Ambo mengaku perbuatan bejatnya itu sudah dilakukannya selama dua bulan. "Saya sudah sepuluh kali memperkosa Ika," katanya. Idawati juga mengaku dirinya mencekik Riska. "Karena tidak diam-diam, dia saya cekik dan mulutnya saya sumpel pakai kain,"

ujarnya. Polisi menjerat Ambo dan Idawati dengan pasal-pasal KUHP tentang perbuatan cabul terhadap anak dan menghilangkan nyawa orang. Ancaman terhadap pelaku perbuatan ini, penjara 15 tahun. Selain itu, ujar Kapolres Jakarta Utara Komisaris Besar Dede Suryana, kedua orang ini akan dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak.


Adapun jasad Riska kini sudah terbaring di kampung halaman ibu kandungnya di Desa Tanjungkerta, Indramayu. Sejumlah warga menancapkan pisau dan alu di atas kuburannya. Warga percaya arwah Riska akan menuntut balas. "Gunakan pisau itu untuk membalas dendam, Nak. Balaskan kemarahan kami...," ujar sejumlah warga sambil menaburkan kembang di atas pusara Riska.
***
Sumber: Tempo, 16 Januari 2006


Beberapa waktu yang lalu, seorang teman bertanya mengapa aku belum menikah juga? Aku menjawabnya persis begini.

Beberapa tahun yang lalu pada training Seven Habits yang aku ikuti, aku pernah menulis tentang `ingin menjadi apa aku di masa depan`. Waktu itu aku menulis:

Aku ingin menjadi pribadi yang berkualitas, mendedikasikan hidupku pada suamiku, anak-anakku, keluarga, orang sekitar dan alam semesta. Aku ingin membangun hidupku dan bersinergy positif dengan orang-orang yang aku sayangi. Dan untuk itu, aku akan menyediakan lautan kesabaran, kasih sayang dan tekad yang teramat kuat.

Aku menulisnya dengan perasaan bergetar. Jika sekarang kau tanyakan mengapa aku belum menikah juga? Jawabannya, sungguh aku ingin menikah. Aku ingin memiliki bayi dan membagi kehidupanku dengannya. Aku ingin memiliki keluarga dan merasa hangat. Mungkin inilah cita-cita terbesarku. Lalu mengapa aku tidak melakukannya juga?

Setiap kali memikirkannya, aku selalu tersudut meringkuk. Aku ingin sekali melahirkan bayi, memberinya ruang tumbuh yang sehat, bersama-sama membuka pintu-pintu rahasia pengetahuan, menikmati segala hasil penciptaan. Tapi yang kulihat sekarang ini, dunia menjadi sangat kejam. Ruang tumbuh yang sehat untuk anak-anak hanyalah milik segelintir orang yang bisa membayar dengan sangat mahal untuk sepetak teritori.


Tapi apakah itu juga sehat?


Ketika anak-anak tidak lagi bisa bermain-main tanpa rasa takut jika keluar dari wilayahnya. Ketika anak-anak tidak lagi bebas memenuhi paru-parunya dengan oksigen tanpa polusi. Ketika anak-anak tidak lagi bisa memasukkan makanan yang memberi nutrisi ke dalam sel-sel tubuhnya. Ketika anak-anak terancam oleh kebiadaban narkoba, kejahatan seksual, kekerasan, pornografi dan sejuta hal menyesatkan yang tidak saja siap mengancam tapi juga menjerat tanpa ampun dan peringatan...


Mampukah aku memberi ruang tumbuh yang sehat itu?


Ternyata tekadku belum cukup kuat untuk membuatku tidak hanya sekedar merasakan sesak ketika memikirkan ini.


Jagoan Kecilku...


Aku, Bulan, Bintang

“ Ye` Ipy, yang di belakang itu namanya apa ya?”

”Itu namanya gerbong kereta, sayang.”

”Kalau yang bulat-bulat itu?”

”ehm.. itu tanki.”

”Tanki itu buat apa?”

”Tangki itu buat tempat menyimpan bahan bakar...”

”Bahan bakar itu apa?”

”Bahan bakar itu.. (garuk-garuk kepala, bagaimana menjelaskannya???). Gini sayang.. Kalau Bulan lapar, Bulan mam nasi, sayur, lauk, buah, dan minum susu, supaya Bulan punya tenaga buat bermain, belajar dsb, jadi Bulan harus mam.. Nah kalau kereta itu biar bisa jalan dikasih bahan bakar.. (gak pede)”

”Ohhh.. (pasang tampang mengerti biar kelihatan pintar). Tapi.. tapi.. kalau kereta itu bahan bakarnya apa?”

” Hehehe.. solar kali ya..”

”Trus kenapa keretanya bunyi tut tuuutt...”

Ternyata, berkomunikasi dengan anak kecil itu tidak mudah.

Bulan, gadis kecilku, usianya baru 4 tahun. Rasa ingin tahunya akan segala hal, membuat semua orang sakit kepala. Sekali waktu ia bertanya tentang, mengapa kita harus berdoa.

”Ye` Ipy.. (panggilan sayangnya buat aku) kenapa tadi bisik-bisik waktu masukin baju ke lemari?”

”Ohh.. itu Ipy lagi berdoa. Kenapa sayang?”

”Kenapa harus berdoa?”

”Ehm.. Supaya Tuhan memberikan berkah sama segala sesuatu yang kita lakukan, cinta.”

”Bulan juga berdoa, tapi kalau lagi mau makan. Eh, kalau Tuhan itu apaan sih?”

(Wahh...) ”Tuhan itu yang menciptakan kita dan alam semesta. Yang memberi kita segala kemudahan, kasih dan segala kebaikan.” (pasti dia nggak ngerti)

(Tuh kan, dia hanya melihatku dengan tatapan bingung, rumit)

”Trus, Tuhan itu ada dimana?” (Nah kan.. pertanyaan sulit ini akhirnya datang juga)

”Coba peluk Ipy..” (aku peluk Bulan, aku sayang-sayang..) ” Bulan sayang nggak ama Ipy?”

”Suayaang donk..” (mulutnya monyong-monyong, cantiknyaa..)

”Sayang banget nggak?”

”Iya duoonkk...”

”Kalau Ipy lagi di Jakarta, Bulan kangen nggak?”

”Kangeeenn..”

”Berasa sayang Ipy nggak? Rasanya sama seperti pas Ipy peluk Bulan?”

”Iya.” (manggut-manggut)

”Bulan berasa sayang sama Ipy, tapi Ipy-nya nggak ada buat peluk Bulan. Begitu juga Tuhan, Dia ada disini.” (aku meletakkan tanggannya ke dadanya) ”Berasa?”

Bulan tersenyum. Senyum tercantik yang pernah aku lihat. Aku tidak tahu dia mengerti atau tidak. Yang jelas cara aku menyampaikan informasi yang menuntut rasa ingin tahunya, buruk sekali. Aku jadi mengerti kenapa Bundanya akhir-akhir ini sibuk membaca buku bagaimana berbicara dengan anak-anak.

”Ye` Ipy.. Bulan barusan berdoa.”

”Berdoa apa, sayang?”

”Bulan berdoa... supaya... Bulan segera punya Om, biar bisa temenin Ayah ngobrol-ngobrol orang dewasa.” (nyengir-nyengir nyebelin)

AHAHAHAHA!

Tuesday, January 10, 2006

Komunikasi Gawat Darurat....

Jakarta, KCM


Penulis: Epti Andaryanti

Dalam perjalanan mudik ke Salatiga, sebut saja Y beserta suami dan anaknya yang masih berusia 5 tahun, mengalami kecelakaan di daerah Sleman dimana sepeda motor yang dinaikinya tersenggol bus. Dalam kejadian tersebut suaminya meninggal di tempat, Y dan anaknya terluka parah. Mereka dibawa ke sebuah puskesmas pembantu terdekat. Namun karena terbatasnya peralatan di puskesmas pembantu tersebut, Y hanya diberikan pertolongan pertama dan diinfus untuk selanjutnya dirujuk ke Rumah Sakit yang lebih besar.

Sekilas, tidak ada masalah yang terjadi disini. Namun dalam keadaan panik dan terluka parah sambil menunggu proses pemindahan ke RS yang lebih besar Y terus menerus bertanya mengapa dia tidak ’diapa-apain’, mengapa dokter tidak melakukan apa-apa padahal seluruh tulang rusuknya remuk dan jawaban dokter setiap ditanya hanyalah ’tunggu keluarga datang’. Rupanya, Y langsung berasumsi bahwa yang dimaksud dengan kata-kata ’tunggu keluarga datang’ sama dengan ’selesaikan semua administrasinya alias ada jaminan pembayaran baru pasien ditangani’.

Ketika menengoknya di RS tempat ia dirawat kemudian, Y masih dengan berapi-api mengungkapkan kemarahannya bahwa rasanya saat itu ketika keadaannya sudah di ambang kematian sekalipun, petugas medis masih harus memastikan dulu urusan administrasi beres sebelum melakukan tindakan.

Saya mencoba mendengarkan dengan baik dan mencermati kronologis permasalahannya. Rasanya hal-hal semacam ini seringkali terdengar. Dalam kasus Y, sebenarnya pihak puskesmas pembantu sudah melakukan semua tindakan medis yang mungkin dilakukan dalam kondisi tersebut sesuai prosedur dan kapasitasnya. Namun mengingat keterbatasan peralatan, tidak semua pemeriksaan dapat dilakukan saat itu, misalnya untuk foto rongent tentu saja harus dirujuk ke RS yang menyediakan fasilitas tersebut.

Bisa dipahami, kondisi pasien yang schock akibat kehilangan suami dan luka parah yang dideritanya serta kondisi sang anak tentu membuatnya panik. Secara psikologis dia berharap segera mendapatkan pertolongan atau perawatan terpadu seperti yang sering dilihat di film ER. Sama sekali tidak menyadari bahwa dia sedang berada di sebuah Puskesmas Pembantu.

Masalah ini jika dilihat dari perspektif dan sedikit perlakuan yang berbeda akan menimbulkan kesan yang berbeda pula.

Yang dimaksud dengan ’tunggu keluarga datang’ oleh pihak Puskesmas Pembantu saat itu adalah, kami sudah melakukan pertolongan pertama dan untuk tindakan selanjutnya yang membutuhkan tenaga medis dan peralatan yang lebih memadai Anda harus dirujuk ke Rumah Sakit yang memiliki fasilitas lebih baik. Detil teknis mengenai hal ini lebih baik dibicarakan dengan pihak keluarga, dengan asumsi kondisi pasien tidak memungkinkan untuk menerima segala informasi tersebut. Inilah pesan yang sebenarnya ingin disampaikan tapi kemudian ditangkap sangat lain oleh pasien karena stereotipe yang sudah begitu melekat di kata-kata ’tunggu keluarga datang’.

Menakjubkan, bagaimana sebuah kalimat/pesan bisa diartikan sangat lain oleh penerima pesan.

Dalam situasi seperti itu kadang petugas medis terjebak pada pemikiran bahwa, tidak memungkinkan mengkomunikasikan sesuatu berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang akan diambil pada pasien dengan kondisi parah mengingat faktor ketidaksiapan pasien untuk menerima informasi dalam kondisi tersebut.

Lalu, bagaimana menyampaikan dengan tepat tanpa menyumbangkan faktor yang memperburuk kondisi pasien?

Dalam kasus Y tersebut, mungkin bisa dicoba kemasan pesan yang lebih informatif dari sekedar ’tunggu keluarga datang’. Misalnya, sampaikan bahwa sudah dilakukan pertolongan pertama pada Anda dan karena keterbatasan petugas medis dan peralatan yang dimiliki puskesmas pembantu ini, maka pemeriksaan dan perawatan selanjutnya akan dirujuk ke Rumah Sakit A.

Berikan pesan singkat yang informatif, sedapat mungkin mudah dicerna oleh pasien sehingga pasien tidak dibiarkan menjadi mahluk tak berdaya yang harus menunggu sambil bertanya-tanya dan membuat asumsi-asumsi yang berkembang menjadi lebih buruk dalam setiap detik penantiannya. Buat pasien tenang dengan informasi tersebut.

Terkadang ketika menunggu tindakan yang akan diberikan, pasien seringkali merasa diabaikan karena tidak ada konfirmasi dari petugas medis yang menanganinya. Lebih baik komunikasikan bila memang pasien harus menunggu beberapa saat untuk observasi terlebih dahulu.

Membangun komunikasi yang baik di saat gawat darurat memang sulit. Apalagi dalam kondisi tersebut tentunya yang lebih diutamakan adalah bagaimana menolong pasien secepatnya. Tapi tidak ada salahnya untuk mengurangi kesalahpahaman yang sering terjadi, kualitas berkomunikasi antara petugas medis dengan pasien perlu untuk terus ditingkatkan. Terlepas dari situasi gawat, pasien yang harus ditangani banyak dan betapa lelahnya petugas medis telah bekerja, sangat penting untuk tetap menjaga agar komunikasi dengan pasien berjalan baik.

Sudah seringkali kita mendengar keluhan pasien tentang dokter yang pendiam, tidak sabaran alias tidak mau mendengarkan keluhan pasien sampai tuntas, pelit informasi dsb. Pasti ada alasan mengapa akhirnya muncul persepsi yang memprihatinkan ini. Profesi dokter yang begitu mulia tidak seharusnya berakhir dengan stereotipe negatif semacam itu hanya dikarenakan kejadian yang seharusnya bisa diciptakan dengan lebih baik dan berkualitas.

Seandainya pun, dokter sudah sangat lelah karena padatnya aktifitas, pasien yang harus ditangani begitu banyak, jadual jaga yang tidak menyisakan waktu istirahat sama sekali dan seabrek alasan lain. Tapi masalahnya apakah pasien tahu dan memahaminya? Perlu diingat bahwa ketika seseorang terbaring sebagai pasien, ia hanya ingin diperiksa dan diperlakukan dengan sepenuh perhatian mungkin. Pada saat itu sensifitasnya akan meningkat, jadi boro-boro mau memikirkan, ’wah dokternya mungkin capek ya makanya dia jarang ngomong dan buru-buru..’ Yang akan terjadi justru sebaliknya, makanya kemudian berkembang persepsi negatif tersebut.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Jangan pernah lelah untuk menciptakan komunikasi yang baik. Dari beberapa kejadian, senjata ini terbukti cukup mujarab untuk membangun hubungan yang baik dengan pasien dan menghindari kesalahpahaman yang berujung dengan berbagai tuduhan malpraktik yang makin marak akhir-akhir ini. * (KCM, 11 Januari 2006)

Dokter, Berkomunikasilah...

Jakarta, KCM

Penulis: Epti Andaryanti

Berbagai kasus malpraktik yang banyak muncul di media massa akhir-akhir ini sungguh sangat memprihatinkan. Dari obrolan di milis-milis yang saya cermati terdapat, pro dan kontra mengenai masalah ini.

Pihak media massa pun terlihat sangat mem-blow up setiap kasusnya sehingga kasus yang pada akhirnya diketahui bukan malpraktik sudah terlanjur terekam di memori masyarakat sebagai malpraktik. Alhasil, posisi dokter semakin disudutkan. Citra negatif pun semakin kuat terbentuk. Dokter yang memiliki tugas mulia dengan memberikan pelayanan kesehatan terhadap masyrakat, bergeser citranya sebagai mesin pencari uang, tidak tersentuh hukum dan sebutan menyudutkan lainnya.

Berdasarkan pengalaman pribadi saya yang setiap bulan selalu keluar masuk emergency, saya menemui berbagai macam tipikal dokter di Jakarta. Saya bersyukur sekali menemukan seorang dokter di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta, yang untuk pertama kalinya mengubah persepsi saya tentang bagaimana dokter seharusnya berkomunikasi dengan pasien dan betapa mengkomunikasikan segala sesuatunya adalah lebih baik daripada membiarkan pasien buta akan penyakit yang dideritanya.

Saya masuk ke ruang emergency dengan keluhan sakit luar biasa di perut. Dokter yang memeriksa saya menjelaskan diagnosanya dan juga menjelaskan obat yang akan disuntikkan termasuk apa kemungkinan efek sampingnya. Saya memberikan informasi bahwa saya alergi obat analgesic (sejauh ini yang saya ketahui obat dengan akhiran gin juga termsuk aspirin). Saya memilih untuk tidak disuntik pereda sakit, jadi dokter hanya menyuntikkan obat untuk lambung saya. Satu jam kemudian karena saya sudah tidak kuat lagi, dokter menyarankan atau tepatnya menawarkan untuk disuntik pereda sakit dari golongan yang berbeda --dan untuk berjaga-jaga sebelumnya saya disuntik anti alergi terlebih dahulu. Setelah dipikir dan mendapat penjelasan detil tentang hal tersebut, saya setuju. Ternyata saya alergi dan kasusnya sangat parah.

Saya tidak penah menyalahkan dokter tersebut, karena saya mengerti benar kondisi saat itu dan dokter sudah menjelaskan tentang segala manfaat dan resiko dari tindakan yang diambil. Dalam kasus tersebut, dokter melibatkan saya sebagai pasien untuk ikut terlibat dalam proses pengobatan, dari edukasi tentang penyakit saya sampai obat-obatan yang diberikan dan tindakan-tindakan apa saja yang mungkin untuk dilakukan. Peran positif yang bisa saya lakukan di masa datang bila memeriksakan diri pada dokter yang berbeda, saya bisa menginformasikan mengenai riwayat penyakit saya sehingga tentunya akan sangat membantu dokter berikutnya dalam mendiagnosa.

Masalah di atas bisa dilihat secara sangat berbeda apabila dokternya tidak sekomunikatif itu. Alhasil tuduhan malpraktik akan dengan mudahnya dilekatkan pada tiap kasus yang sebenarnya tidak dapat dikatagorikan sebagai malpraktik.

Mengapa bisa terjadi demikian?

Harus disadari pengetahuan pasien sangat terbatas. Dan sudah merupakan hak pasien untuk mendapatkan penjelasan mengenai penyakit yang dideritanya dan tindakan apa yang akan dilakukan pada tubuhnya.

Dokter dalam hal ini harus mencoba mengedukasi masyarakat dan mulailah meninggalkan ekslusifitas dokter selama ini dengan sikap diam penuh rahasia. Tidak ada salahnya memberi pengetahuan pada pasien, toh itu akan berguna jika pasien memeriksakan diri pada dokter lain yang merupakan rekan sejawat juga kan.

Pasien juga belajar untuk mengetahui kondisi tubuh, riwayat kesehatannya sendiri dan diharapkan dapat memberikan informasi pada dokter yang memeriksanya kemudian, hal ini jelas akan sangat membantu pada proses diagnosa atau pada saat tindakan medik. Jika pola komunikasi ini sudah terbentuk dengan baik diharapkan dapat meminimalisir kesalahpahaman. Dokter juga dituntut lebih bertanggung jawab tentunya.

Mengenai reaksi media massa yang cenderung menyudutkan kalangan kedokteran, hal ini bisa dimaklumi karena adanya semangat membela yang lemah. Pasien jelas dianggap sebagai pihak yang lemah dan dirugikan pada kasus-kasus yang muncul belakangan ini. Oleh karena itu perlu ditekankan untuk meberikan penjelasan yang diperlukan pada pasien. Jika pasien tidak mengerti? Itu lain soal, yang penting dokter sudah berusaha menjelaskan dan bersikap kooperatif. Hal yang sering terjadi kan justru sebaliknya, pasien ngotot bertanya, dokternya entah sibuk dengan pasien lain atau jadwal yang luar biasa padat dan kemudian entah tinggal di planet mana, mereka menjadi sangat sulit untuk dihubungi.

Humas Rumah Sakit juga sama saja, tiap ada kasus malpraktik yang dituduhkan mereka selalu mengeluarkan statement siap menghadapi tuntutan. Yang penting disini bukan hanya sekedar mencari siapa yang benar dan salah saja. Tapi cobalah untuk meminimalisir jarak antara dokter dan pasien dengan edukasi tersebut. Bukankah alangkah baiknya bila kasus-kasus semacam itu tidak ada? Daripada kemenangan dokter secara hukum dengan segala argumentasi ilmiahnya yang tetap saja akan meninggalkan bekas luka dan mengokohnya stereotip dokter yang untouchable?

Memang sudah saatnya dokter dibekali dengan pendidikan komunikasi untuk meningkatkan profesionalitas mereka dalam memberikan pelayanan medis. Dan sudah saatnya pula kita menjadi pasien yang pintar, tahu akan hak-haknya dan cobalah untuk membangun komunikasi yang baik dengan dokter yang juga akan segera meningkatkan kemampuan berkomunikasinya bukan..? * (Kompas Cyber Media, 08 Maret 2005)
http://www.kompas.com/kesehatan/news/0503/08/152200.htm