Tuesday, January 10, 2006

Dokter, Berkomunikasilah...

Jakarta, KCM

Penulis: Epti Andaryanti

Berbagai kasus malpraktik yang banyak muncul di media massa akhir-akhir ini sungguh sangat memprihatinkan. Dari obrolan di milis-milis yang saya cermati terdapat, pro dan kontra mengenai masalah ini.

Pihak media massa pun terlihat sangat mem-blow up setiap kasusnya sehingga kasus yang pada akhirnya diketahui bukan malpraktik sudah terlanjur terekam di memori masyarakat sebagai malpraktik. Alhasil, posisi dokter semakin disudutkan. Citra negatif pun semakin kuat terbentuk. Dokter yang memiliki tugas mulia dengan memberikan pelayanan kesehatan terhadap masyrakat, bergeser citranya sebagai mesin pencari uang, tidak tersentuh hukum dan sebutan menyudutkan lainnya.

Berdasarkan pengalaman pribadi saya yang setiap bulan selalu keluar masuk emergency, saya menemui berbagai macam tipikal dokter di Jakarta. Saya bersyukur sekali menemukan seorang dokter di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta, yang untuk pertama kalinya mengubah persepsi saya tentang bagaimana dokter seharusnya berkomunikasi dengan pasien dan betapa mengkomunikasikan segala sesuatunya adalah lebih baik daripada membiarkan pasien buta akan penyakit yang dideritanya.

Saya masuk ke ruang emergency dengan keluhan sakit luar biasa di perut. Dokter yang memeriksa saya menjelaskan diagnosanya dan juga menjelaskan obat yang akan disuntikkan termasuk apa kemungkinan efek sampingnya. Saya memberikan informasi bahwa saya alergi obat analgesic (sejauh ini yang saya ketahui obat dengan akhiran gin juga termsuk aspirin). Saya memilih untuk tidak disuntik pereda sakit, jadi dokter hanya menyuntikkan obat untuk lambung saya. Satu jam kemudian karena saya sudah tidak kuat lagi, dokter menyarankan atau tepatnya menawarkan untuk disuntik pereda sakit dari golongan yang berbeda --dan untuk berjaga-jaga sebelumnya saya disuntik anti alergi terlebih dahulu. Setelah dipikir dan mendapat penjelasan detil tentang hal tersebut, saya setuju. Ternyata saya alergi dan kasusnya sangat parah.

Saya tidak penah menyalahkan dokter tersebut, karena saya mengerti benar kondisi saat itu dan dokter sudah menjelaskan tentang segala manfaat dan resiko dari tindakan yang diambil. Dalam kasus tersebut, dokter melibatkan saya sebagai pasien untuk ikut terlibat dalam proses pengobatan, dari edukasi tentang penyakit saya sampai obat-obatan yang diberikan dan tindakan-tindakan apa saja yang mungkin untuk dilakukan. Peran positif yang bisa saya lakukan di masa datang bila memeriksakan diri pada dokter yang berbeda, saya bisa menginformasikan mengenai riwayat penyakit saya sehingga tentunya akan sangat membantu dokter berikutnya dalam mendiagnosa.

Masalah di atas bisa dilihat secara sangat berbeda apabila dokternya tidak sekomunikatif itu. Alhasil tuduhan malpraktik akan dengan mudahnya dilekatkan pada tiap kasus yang sebenarnya tidak dapat dikatagorikan sebagai malpraktik.

Mengapa bisa terjadi demikian?

Harus disadari pengetahuan pasien sangat terbatas. Dan sudah merupakan hak pasien untuk mendapatkan penjelasan mengenai penyakit yang dideritanya dan tindakan apa yang akan dilakukan pada tubuhnya.

Dokter dalam hal ini harus mencoba mengedukasi masyarakat dan mulailah meninggalkan ekslusifitas dokter selama ini dengan sikap diam penuh rahasia. Tidak ada salahnya memberi pengetahuan pada pasien, toh itu akan berguna jika pasien memeriksakan diri pada dokter lain yang merupakan rekan sejawat juga kan.

Pasien juga belajar untuk mengetahui kondisi tubuh, riwayat kesehatannya sendiri dan diharapkan dapat memberikan informasi pada dokter yang memeriksanya kemudian, hal ini jelas akan sangat membantu pada proses diagnosa atau pada saat tindakan medik. Jika pola komunikasi ini sudah terbentuk dengan baik diharapkan dapat meminimalisir kesalahpahaman. Dokter juga dituntut lebih bertanggung jawab tentunya.

Mengenai reaksi media massa yang cenderung menyudutkan kalangan kedokteran, hal ini bisa dimaklumi karena adanya semangat membela yang lemah. Pasien jelas dianggap sebagai pihak yang lemah dan dirugikan pada kasus-kasus yang muncul belakangan ini. Oleh karena itu perlu ditekankan untuk meberikan penjelasan yang diperlukan pada pasien. Jika pasien tidak mengerti? Itu lain soal, yang penting dokter sudah berusaha menjelaskan dan bersikap kooperatif. Hal yang sering terjadi kan justru sebaliknya, pasien ngotot bertanya, dokternya entah sibuk dengan pasien lain atau jadwal yang luar biasa padat dan kemudian entah tinggal di planet mana, mereka menjadi sangat sulit untuk dihubungi.

Humas Rumah Sakit juga sama saja, tiap ada kasus malpraktik yang dituduhkan mereka selalu mengeluarkan statement siap menghadapi tuntutan. Yang penting disini bukan hanya sekedar mencari siapa yang benar dan salah saja. Tapi cobalah untuk meminimalisir jarak antara dokter dan pasien dengan edukasi tersebut. Bukankah alangkah baiknya bila kasus-kasus semacam itu tidak ada? Daripada kemenangan dokter secara hukum dengan segala argumentasi ilmiahnya yang tetap saja akan meninggalkan bekas luka dan mengokohnya stereotip dokter yang untouchable?

Memang sudah saatnya dokter dibekali dengan pendidikan komunikasi untuk meningkatkan profesionalitas mereka dalam memberikan pelayanan medis. Dan sudah saatnya pula kita menjadi pasien yang pintar, tahu akan hak-haknya dan cobalah untuk membangun komunikasi yang baik dengan dokter yang juga akan segera meningkatkan kemampuan berkomunikasinya bukan..? * (Kompas Cyber Media, 08 Maret 2005)
http://www.kompas.com/kesehatan/news/0503/08/152200.htm

2 Comments:

At Wednesday, January 11, 2006 10:32:00 PM, Blogger Dani Iswara said...

pasien juga belajar lbh mengenal penyakitnya..benar..banyak sumber informasi yg bisa dipercaya..termasuk internet, buku, majalah dan lainnya..edukasi pasien tetap perlu..jadi yg namanya promosi kesehatan hrs jalan terus..
dokternya jg belajar..komunikasi..human being-nya mesti ke depan..bukan sekedar kejar 'setoran'..tp ada jg pasien yg 'cuman' butuh obat..pengen cepet..gak perlu 'diomelin' lg..

 
At Tuesday, February 06, 2007 9:30:00 PM, Blogger Yusuf Alam Romadhon said...

yah itulah masalah terbesar dokter di Indonesia.. komunikasi yang kurang... dan pengalaman pribadi selama menjalani pendidikan dokter ternyata ini tidak mendapatkan tekanan yang berarti... bahkan ketika ujian lebih dititik beratkan pada masalah content diagnosis, terapi dan semacamnya... padahal sebuah penelitian.. berkomunikasi dengan baik dengan pasien hanya menambahkan waktu hanya tiga menit saja... membuat dokter tidak dikesankan keburu matere.. mata duitan.. memang masih banyak yang perlu dibenahi.. salam kenal

 

Post a Comment

<< Home