Tuesday, January 10, 2006

Komunikasi Gawat Darurat....

Jakarta, KCM


Penulis: Epti Andaryanti

Dalam perjalanan mudik ke Salatiga, sebut saja Y beserta suami dan anaknya yang masih berusia 5 tahun, mengalami kecelakaan di daerah Sleman dimana sepeda motor yang dinaikinya tersenggol bus. Dalam kejadian tersebut suaminya meninggal di tempat, Y dan anaknya terluka parah. Mereka dibawa ke sebuah puskesmas pembantu terdekat. Namun karena terbatasnya peralatan di puskesmas pembantu tersebut, Y hanya diberikan pertolongan pertama dan diinfus untuk selanjutnya dirujuk ke Rumah Sakit yang lebih besar.

Sekilas, tidak ada masalah yang terjadi disini. Namun dalam keadaan panik dan terluka parah sambil menunggu proses pemindahan ke RS yang lebih besar Y terus menerus bertanya mengapa dia tidak ’diapa-apain’, mengapa dokter tidak melakukan apa-apa padahal seluruh tulang rusuknya remuk dan jawaban dokter setiap ditanya hanyalah ’tunggu keluarga datang’. Rupanya, Y langsung berasumsi bahwa yang dimaksud dengan kata-kata ’tunggu keluarga datang’ sama dengan ’selesaikan semua administrasinya alias ada jaminan pembayaran baru pasien ditangani’.

Ketika menengoknya di RS tempat ia dirawat kemudian, Y masih dengan berapi-api mengungkapkan kemarahannya bahwa rasanya saat itu ketika keadaannya sudah di ambang kematian sekalipun, petugas medis masih harus memastikan dulu urusan administrasi beres sebelum melakukan tindakan.

Saya mencoba mendengarkan dengan baik dan mencermati kronologis permasalahannya. Rasanya hal-hal semacam ini seringkali terdengar. Dalam kasus Y, sebenarnya pihak puskesmas pembantu sudah melakukan semua tindakan medis yang mungkin dilakukan dalam kondisi tersebut sesuai prosedur dan kapasitasnya. Namun mengingat keterbatasan peralatan, tidak semua pemeriksaan dapat dilakukan saat itu, misalnya untuk foto rongent tentu saja harus dirujuk ke RS yang menyediakan fasilitas tersebut.

Bisa dipahami, kondisi pasien yang schock akibat kehilangan suami dan luka parah yang dideritanya serta kondisi sang anak tentu membuatnya panik. Secara psikologis dia berharap segera mendapatkan pertolongan atau perawatan terpadu seperti yang sering dilihat di film ER. Sama sekali tidak menyadari bahwa dia sedang berada di sebuah Puskesmas Pembantu.

Masalah ini jika dilihat dari perspektif dan sedikit perlakuan yang berbeda akan menimbulkan kesan yang berbeda pula.

Yang dimaksud dengan ’tunggu keluarga datang’ oleh pihak Puskesmas Pembantu saat itu adalah, kami sudah melakukan pertolongan pertama dan untuk tindakan selanjutnya yang membutuhkan tenaga medis dan peralatan yang lebih memadai Anda harus dirujuk ke Rumah Sakit yang memiliki fasilitas lebih baik. Detil teknis mengenai hal ini lebih baik dibicarakan dengan pihak keluarga, dengan asumsi kondisi pasien tidak memungkinkan untuk menerima segala informasi tersebut. Inilah pesan yang sebenarnya ingin disampaikan tapi kemudian ditangkap sangat lain oleh pasien karena stereotipe yang sudah begitu melekat di kata-kata ’tunggu keluarga datang’.

Menakjubkan, bagaimana sebuah kalimat/pesan bisa diartikan sangat lain oleh penerima pesan.

Dalam situasi seperti itu kadang petugas medis terjebak pada pemikiran bahwa, tidak memungkinkan mengkomunikasikan sesuatu berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang akan diambil pada pasien dengan kondisi parah mengingat faktor ketidaksiapan pasien untuk menerima informasi dalam kondisi tersebut.

Lalu, bagaimana menyampaikan dengan tepat tanpa menyumbangkan faktor yang memperburuk kondisi pasien?

Dalam kasus Y tersebut, mungkin bisa dicoba kemasan pesan yang lebih informatif dari sekedar ’tunggu keluarga datang’. Misalnya, sampaikan bahwa sudah dilakukan pertolongan pertama pada Anda dan karena keterbatasan petugas medis dan peralatan yang dimiliki puskesmas pembantu ini, maka pemeriksaan dan perawatan selanjutnya akan dirujuk ke Rumah Sakit A.

Berikan pesan singkat yang informatif, sedapat mungkin mudah dicerna oleh pasien sehingga pasien tidak dibiarkan menjadi mahluk tak berdaya yang harus menunggu sambil bertanya-tanya dan membuat asumsi-asumsi yang berkembang menjadi lebih buruk dalam setiap detik penantiannya. Buat pasien tenang dengan informasi tersebut.

Terkadang ketika menunggu tindakan yang akan diberikan, pasien seringkali merasa diabaikan karena tidak ada konfirmasi dari petugas medis yang menanganinya. Lebih baik komunikasikan bila memang pasien harus menunggu beberapa saat untuk observasi terlebih dahulu.

Membangun komunikasi yang baik di saat gawat darurat memang sulit. Apalagi dalam kondisi tersebut tentunya yang lebih diutamakan adalah bagaimana menolong pasien secepatnya. Tapi tidak ada salahnya untuk mengurangi kesalahpahaman yang sering terjadi, kualitas berkomunikasi antara petugas medis dengan pasien perlu untuk terus ditingkatkan. Terlepas dari situasi gawat, pasien yang harus ditangani banyak dan betapa lelahnya petugas medis telah bekerja, sangat penting untuk tetap menjaga agar komunikasi dengan pasien berjalan baik.

Sudah seringkali kita mendengar keluhan pasien tentang dokter yang pendiam, tidak sabaran alias tidak mau mendengarkan keluhan pasien sampai tuntas, pelit informasi dsb. Pasti ada alasan mengapa akhirnya muncul persepsi yang memprihatinkan ini. Profesi dokter yang begitu mulia tidak seharusnya berakhir dengan stereotipe negatif semacam itu hanya dikarenakan kejadian yang seharusnya bisa diciptakan dengan lebih baik dan berkualitas.

Seandainya pun, dokter sudah sangat lelah karena padatnya aktifitas, pasien yang harus ditangani begitu banyak, jadual jaga yang tidak menyisakan waktu istirahat sama sekali dan seabrek alasan lain. Tapi masalahnya apakah pasien tahu dan memahaminya? Perlu diingat bahwa ketika seseorang terbaring sebagai pasien, ia hanya ingin diperiksa dan diperlakukan dengan sepenuh perhatian mungkin. Pada saat itu sensifitasnya akan meningkat, jadi boro-boro mau memikirkan, ’wah dokternya mungkin capek ya makanya dia jarang ngomong dan buru-buru..’ Yang akan terjadi justru sebaliknya, makanya kemudian berkembang persepsi negatif tersebut.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Jangan pernah lelah untuk menciptakan komunikasi yang baik. Dari beberapa kejadian, senjata ini terbukti cukup mujarab untuk membangun hubungan yang baik dengan pasien dan menghindari kesalahpahaman yang berujung dengan berbagai tuduhan malpraktik yang makin marak akhir-akhir ini. * (KCM, 11 Januari 2006)

3 Comments:

At Wednesday, January 11, 2006 10:39:00 PM, Blogger Dani Iswara said...

kembali pd attitude..dokter melayani pasien dg baik..itu dah sewajarnya dan seharusnya..dokter juga manusia..beban dokter juga tinggi..emang enak jd dokter?? mesti siap 24 jam..gak spt bayangan masy. yg liat enaknya aja..gampangnya..saat melayani pasien..maka anggaplah itu saudara sendiri..perlakukan pasien sebagaimana kita/saudara kita ingin diperlakukan..biar YG DIATAS membalasnya.. :))

 
At Wednesday, January 11, 2006 11:09:00 PM, Blogger eptia said...

Dani, makasih ya untuk comment-nya yg membangun.. Berangkat dari keprihatinan saya tentang opini masyarakat yg terkadang menyudutkan petugas medis dan berbagai kejadian yg menimpa pasien yang seyogyanya bisa dibangun lebih berkualitas lagi, mendorong saya untuk menulis ttg komunikasi medis ini. Niatnya sih, ingin menjembatani `lubang prasangka hitam` antar keduanya. Mudah2an bisa sedikit membawa pencerahan bagi pasien maupun petugas medis. Harapannya sih, masy bs lbh memahami profesi petugas medis yg mulia ini dan sebaliknya, petugas medis bisa lebih meningkatkan pelayanan dan lebih hangat dan tercipta hubungan yg lebih positif :) Artikel ini berseri, mudah2an saya bisa rutin menulisnya, soalnya kl sdg sibuk kerja, waktu buat keluyuran ke Rumah Sakit jd terbatas... Jadi kl ada temans dokter dan perawat yg mau menyampaikan unek2nya, saya dg senang hati akan siap menampung, supaya saya bisa mengkomunikasikannya ke ruang lingkup yg terjangkau oleh saya..

 
At Saturday, April 22, 2006 10:25:00 PM, Blogger Lakshmi Nawasasi said...

Sering-sering menulis Eptia ...
Ini kan edukasi untuk para pasien juga .. Saya pernah ditungguin / di tonton keluarga pasien se abrek (sekampung) pada waktu melakukan WSD (mengeluarkan cairan yang terjebak di rongga pleura - paru). Saya cuek aja .. mau diliat ya silahkan :). Asal jangan mengganggu tindakan aja.
Perawat dan dokter lain yang merasa 'risih' ... kok ya seperti ga percaya dengan dokternya ... :)
Begitu juga dengan kebiasaan para pasien yang seolah 'menggurui' dokternya ....
Baik pasien, baik dokternya semuanya memang kudu di 'tatar' supaya komunikasinya enak, hangat, nyambung ...
Tugas ini kayaknya cocok sekali kalau di limpahkan pada Eptia melalui tulisan-tulisannya yang 'ngena'
Terus berkarya Eptia ...
Salam,

 

Post a Comment

<< Home