Friday, February 17, 2006

Listrik Ohh.. Listrik

Eiits, jangan salah sangka dulu. Buk

an karena TDL sedang ramai dibicarakan maka saya ikut-ikutan angkat bicara soal listrik. Tokh, saya ini bukan siapa-siapa yang komposisi bunyi-bunyian dari bibir saya bakal diperhitungkan, kalau pun banyak bicara juga tidak ada yang dengar. Tapi diam-diam saya adalah pengguna listrik sejati lho.. Nggak percaya??? Saya sendiri baru percaya kalau sangat tergantung listrik semalam.

Semalam?? Kenapa tidak dari dulu?? Dulu saya masih berpikir dan terkenang-kenang jaman menginap di rumah nenek yang berpenerangan lampu teplok (lampu minyak dengan sumbu-red). Selain cahaya remang-remangnya yang membuat suasana jadi romantis, kenangan akan kejadian lucu juga membuat hati senang. Misalnya, bagaimana tiap pagi harus bersihin hidung yang jadi hitam karena asap lampu yang meninggalkan jelaga, bau minyak tanah yang menyengat lagi nikmat… Atau saat harus berjalan di kegelapan malam dengan menggunakan obor yang terbuat dari bambu diisi minyak tanah dan bersumbu sabut kelapa.

Acara membuatnya saja sudah merupakan keasikan tersendiri, apalagi dengan kreasi-kreasi kita yang dibiarkan liar. Bagaimana tidak liar, wong akhirnya saya dan teman-teman yang masih kanak-kanak sudah bisa membuat `Lung` (semacam meriam dari bambu yang kalau diledakkan bunyinya bisa terdengar sampai ke kampung tetangga). Jaman sekarang yang beginian bisa disangka teroris..

Tapi itu duluuu.. dulu banget..

Waktu sungai disamping rumah masih dialiri air jernih hingga kita bisa melihat batu-batu warna warni yang berserakan dan ikan-ikan menjadi teman kala berenang. Tidak ada bau kaporit, yang ada hanya sesegar air pegunungan (saat ini, tidak bisa merasakan kesegarannya lagi, tapi untunglah masih bisa membacanya dari tulisan di kemasan air mineral).

Waktu pohon-pohon rindang bercanda riang dengan matahari dan angin.. Waktu bayam, tomat, cabai, jagung dkk tumbuh subur dan dengan senang hati menjadi teman makan pagi siang dan malam. Yah.. ternyata itu sudah dulu bangettt…

Sekarang?? Saya tinggal di kawasan segitiga emas dikelilingi gedung-gedung tinggi pencakar langit (namanya memang terdengar menyeramkan, sama menyeramkannya dengan segala macam zat jahat yang disemburkan menggerogoti atmosfer, biasanya langit menampakkan kesedihannya dengan tidak menampakkan warna terbaiknya, langit biru cerah juga tinggal kenangan masa lalu..). Di kawasan paling diperhitungkan dalam denyut nadi perekonomian Indonesia inilah saya tinggal (di sekotak kecil kamar kos tepatnya hehe..). Dan di kawasan paling penting inilah listrik mati semalaman (mudah-mudahan tidak menjadi semingguan, sebulanan, atau… hiii.. ).

Efek pertama mati listrik langsung menyambut begitu membuka pintu. Gelap gulita. Ah, paling cuma sebentar. Untunglah, kamar saya punya dua jendela besar (ini juga yang membuat jatuh cinta), jadi berharap langit masih bermurah hati untuk sedikit saja memberikan sinar lembut ke kamar, saya buka jendela lebar-lebar. Efeknya cukup dramatis, apalagi dengan nyala lilin aroma teraphy, kamar pun jadi remang-remang teduh.

Masalah mulai timbul ketika saya harus menyantap makan malam yang sempat dibeli di jalan pulang tadi, baso yang tidak berformalin dan berboraks (abangnya sempat meyakinkan kalau seumur-umur dia belum pernah melihat yang namanya formalin dan boraks, benar atau tidaknya biar menjadi rahasia alam, yang penting saya mau mensukseskan program menaikkan harkat hidup tukang baso pasca issue formalin-boraks. Hehe..).

Tapi tak apalah, makan di kafe juga remang-remang begini. Makan malam romantis pun sukses mandi keringat. Berharap listrik segera menyala, saya duduk-duduk santai mengupas apel (upss.. bukannya baik kalau disantap bersama kulitnya?? Itu kalau orang-orang di balik raksasa penggerak ekonomi dunia tidak beride melapisi apel dengan lilin agar cantik mengkilat dan menyemprot pestisida tentunya..). Setelah melewati dua jam tanpa ada tanda-tanda listrik mau menyala, saya mulai disergap rasa tidak nyaman. Tiba-tiba teringat sederet rencana yang mendorong saya pulang on time (biasanya betah berlarut-larut di kantor).

Dua buah DVD film hitam putihnya Audrey Hebrun oleh-oleh teman dari Singapore harus menunda penampilan terbaiknya. Ok, lah saya bukan type yang tergantung pada TV yang setiap saat TV-nya harus hidup entah ditonton atau tidak. Biasanya, saya malah asik tenang-tenang mendengarkan musik, atau bertenang-tenang membaca buku. Entah kenapa, saya merasa sekarang ini harusnya saya sudah nonton Top Nine News-nya Metro TV. Atau menikmati petualangan National Geograpic cannel. Nonton liga Inggris di ESPN..

Ahh.. enaknya mendengarkan suara merdunya Laura Figy. Tanpa listrik? Oh, No semua peralatan memakai listrik..

Tidak ingin terjebak dalam kegelisahan saya putuskan untuk keluar kamar. Gelap gulita. Tapi terdengar suara-suara orang sedang asik ngobrol. Rupanya bukan cuma saya yang ingin melepas kegelisahan. Ramai orang berkumpul di foyer (istilah kerennya, biar tidak ketauan banget kalau itu sekedar tempat berkumpul dengan beberapa sofa – tempat duduk ala kadarnya, tepatnya-, tidak bisa dibilang ruang tamu dan terlalu luas untuk disebut lorong, jadi biar Ibuku tidak menangis membayangkan tempat kosku kalau membaca tulisanku ini, sebut saja dengan sebutan keren itu, foyer).

Alhasil, semalam hubungan diplomatic antar kamar semakin erat. Kami asik berbincang, hal yang jarang kami lakukan, karena seperti orang-orang yang mengadu nasib di Jakarta pada umumnya, kami terbiasa sibuk dengan urusan masing-masing (nama lain dari kerja), pergi pagi pulang malam, kalau saling bertemu, atau berpapasan tepatnya, kalimat sakti paling akrab yang pernah terlontar sebatas, ‘Hai, berangkat ya?’ Atau ‘baru pulang ya?’ atau ‘wah.. kerja dimana mbak?’ atau yang paling parah, dan biasanya mementahkan perasaan akrab kita ‘kamar yang mana ya? Kok nggak pernah liat…?’ (tentu saja penggambaran ini tidak termasuk untuk teman kos -sahabat-sahabatku-yang senantiasa menghabiskan weekend bersamaku J )

Tapi setelah waktu semakin merambat malam, dan perbincangan lebih sering diselingi acara memencet-mencet HP, entah ber-sms ria atau telepon sana sini, akhirnya kami sepakat kembali ke kamar masing-masing. Kamar yang redup, tenang dan romantis.

Romantis?? Tentu saja karena efek cahaya lilin dan udara dingin yang merambat naik ke jendela. Ditambah bayangan daun-daun pohon belimbing, lengkap sudah efek yang tercipta.

Saya mulai menikmati suasana tenang diterangi nyala api lilin yang makin redup. Mungkin sebentar lagi habis, dan keadaan akan sangat gelap. Tapi saya merasa sangat nyaman tiduran dan menikmati bau susu dari sabun yang dipakai di acara mandi diterangi lilin tadi – upss, sorry disensor-. Ah, ya mungkin enak juga ya kalau ada yang memeluk. Ahahaha..

Malam selarut ini, biasanya saya masih asik berkutat dengan pekerjaan kantor yang dibawa pulang atau sekedar menyalurkan hoby menulis ini itu. Atau bersibuk-sibuk memanggang roti gandum dengan madu dan minum susu hangat sambil nonton bola. Ahh.. nikmatnya..

Tapi lagi-lagi, perlu listrik untuk menyalakan TV, laptop yang baterainya menjelang abis, oven toaster dan dispenser andalan. Plus, Handphone low bat. The perfect nite.

Untunglah akhirnya saya terlelap. Benar-benar lelap karena ketika pagi menjelang badan terasa lebih segar. Listrik belum nyala juga. Tergerak oleh instink anak kos, saya cepat-cepat mandi. Benar saja, masalah listrik selalu diikuti masalah persediaan air. Begitu selesai mandi, kran tidak lagi meneteskan air. Di luar terdengar orang mulai ribut numpang mandi dari kamar ke kamar mencari yang masih punya air buat mandi. Repotnya..

Hari ini, tidak seperti biasanya saya tidak keramas (di Jakarta raya yang panas ini?? Mandi tidak cuci rambut = tidak mandi = tidak segar sama sekali = rambut tidak OK seharian = don’t try this at home!). Untuk jenis orang yang memiliki ketergantungan terhadap hair dryer (bukan karena sok stylist, tapi penyakit alergi dingin tidak mengijinkan saya berlama-lama dengan rambut basah, kecuali saya mau berpilek-pilek ria tentunya, dan jelas saya pilih tidak), pilihan tidak keramas hari ini sangat tepat. Benar juga, listrik belum menunjukkan tanda-tanda menyala.

Jadi, seperti semalam, jendela besar andalan menjadi solusi kebutuhan cahaya, lumayan mengandung vitamin D pula. Tidak ada susu hangat kali ini dan oatmeal pun terpaksa disantap di kantor. Juga tidak ada musik bersemangat di pagi hari, ohh.. listrik idolaku…

Sekarang saya berada di lantai 18 di sebuah gedung di Jl. Sudirman yang terkenal itu (Jendral Sudirmannya yang terkenal, I mean). Berkutat dengan segala pekerjaan dan perangkat teknologi. Dengan dukungan si istimewa listrik tentunya..

Saya tidak tahu apakah listrik masih mati atau tidak. Saya tidak ingin mencari tahu, biar saja menjadi kejutan sesampai di kos. Saya tidak ingin merencanakan antisipasinya, nikmati saja… Sampai disini, saya benar-benar besyukur. Atas segala kenikmatan dan ‘kemewahan’ yang saya dapat. Sehari tanpa listrik?? Ah tidak apa-apa, tokh semua akan baik-baik saja setelah ini. Tokh semua akan kembali seperti rutinitas semula begitu listrik hidup. Tokh masih nyaman-nyaman saja keadaannya…

Di bagian dunia lain, dunia yang mungkin tidak jauh dari tempatku tinggal, orang-orang tanpa listrik, tanpa air bersih, tanpa roti bakar madu mengepul dari oven toaster, tanpa susu hangat nikmat, tanpa selimut tebal menyelimuti kala dingin, tanpa lilin, tanpa pekerjaan… mengais-ngais kehidupan, yang esok hari tak pernah mereka bayangkan akankah masih sama atau justru makin menyeret mereka ke lembah tanpa harapan.

Harapan?? Segunung keyakinan mereka punya. Seluas lautan mereka punya kekuatan. Tak bertepi rasa syukur mereka punya… oleh karena itu, hanya segelintir saja yang menjadi kriminal mengusik kehidupan kita yang berputar di sumbu roda uang.

Sisanya?? Adalah kumpulan orang-orang luar biasa yang tak tersentuh Nobel.

2 Comments:

At Monday, March 13, 2006 12:06:00 AM, Blogger Erik Tapan said...

Dear Eptia,
Buseeet...curhatnya panjang bener.
BTW, koq waktu itu nggak tengadah ke langit nyari2 bintang?
Siapa tahu ada yang jantung, eh maksud saja jatuh. :-)

 
At Friday, June 02, 2006 12:46:00 AM, Anonymous Anonymous said...

Hmm...bahasanya sangat romantis, ..keep writing.

 

Post a Comment

<< Home