Tuesday, June 13, 2006

Jatuh Bangun Aku...

Dua tahun lalu saya menerima email ini (Menembus Batas-Batas Semu I. Ke Jerman Mengisi Bahan Bakar), seri tulisan tentang kisah-kisah orang biasa yang melakukan hal-hal luar biasa untuk pencapaian hidupnya. Salah satunya, kisah anak2 muda yang hijrah ke Jerman ini.

-------------------

Menembus Batas-Batas Semu I. Ke Jerman Mengisi Bahan Bakar.

Kisah-kisah orang biasa yang berusaha melepaskan diri dari kungkungan situasi tidak berkembang, stagnan, tidak maju-maju, sungguh menarik. Apalagi menyaksikan langsung prosesnya. Rasanya jauh lebih nikmat ketimbang membaca kisah pengusaha kelas kakap A atau B yang berhasil mencetak laba sekian miliar tahun ini.

Saya pernah mengisahkan mantan web designer yang lompat kuadran menjadi enterprenuer. Kini saya akan menceritakan kisah nyata lain. Kebetulan ia juga seorang web designer yang cukup lama bekerja dengan saya. Tahun lalu, ia mengirim email, ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan meminta semacam surat rekomendasi.

Kabar ini sangat mengherankan saya, karena ia sangat menikmati pekerjaannya. Gajinya memang tidak besar. Tapi ia puas. Ia merasa bekerja pada lingkungan yang ia senangi. Jarak kantor dari rumah juga begitu dekatnya, sehingga ia cukup naik sepeda dan lima menit sampai kantor. Ketika begitu banyak profesional di Jakarta hidupnya digerogoti oleh macetnya perjalanan kantor-rumah (bisa 2 jam sehari), jarak tempuh 5 menit sungguh sebuah kemewahan yang sulit dicari. Apalagi, ia bisa bekerja tanpa aturan jam kerja yang kaku. Boleh datang jam 10 pagi, boleh pulang jam 11 malam. Yang penting target pekerjaan terpenuhi.

Dengan kemewahan seperti itu, apa lagi yang dicari? “Saya sudah mentok pak. Saya harus melakukan sesuatu. Saya mesti mengisi bahan bakar. Saya ingin belajar lagi, untuk modal pekerjaan ke depan,” katanya. Saya lega mendengarnya. Itu artinya dia bukan pindah ke perusahaan lain dengan pekerjaan yang sama. “Kalau pindah ke tempat lain dan tetap menjadi web designer, tidak ada gunanya, karena di sinilah tempat terbaik sebagai web designer,” katanya.

Saya terpekur. Memang kalau dia terus bekerja seperti sekarang, pertumbuhan gajinya ya segitu saja, paling beberapa persen di atas inflasi. Sungguh mengharukan mendengar dia berani mengambil keputusan berhenti, kemudian mengisi bahan bakar baru, untuk suatu ketika berlari lebih kencang lagi. Apa yang dia lakukan sungguh tak saya bayangkan: ia melamar beasiswa ke Jerman untuk mengambil kuliah Digital Media. Setelah menempuh proses yang mendebarkan dia, akhirnya dia mendapat 50% beasiswa belajar. Sisanya harus ia tanggung sendiri. Nekad, ia jual mobil tua dan kamera kesayangannya sebagai modal. Berbekal laptop dan seperangkat pakaian dingin, ia berangkat ke Lubeck, Jerman, tahun lalu.

Ia tidak tahu ketika pulang nanti ia akan bekerja di mana. Tapi ia tampak tidak khawatir. Ia yakin, pekerjaan akan mudah ia dapatkan dengan tambahan ilmu barunya dan semangat barunya.

Saya masih takjub, apa yang mendorong dia melakukan lompatan luar biasa itu? Mungkinkah karena ia punya mimpi yang tinggi? Ia memang menyebut dirinya sebagai pemimpi. “Avianto is a dreamer. He is currently pursuing one of his many dream by being a digital media graduate student at ISNM in Lübeck, Germany”.

Ya, dia memang pemimpi. Tapi dia bukan pemimpi biasa. Dia orang yang berusaha meraih mimpinya. Saya yakin, jalan ke Jerman hanya salah satu langkah yang ditempuh untuk terus meningkatkan kemampuan diri. Ia tak mau terkungkung oleh rasa nikmat, stabil, tidak maju terlalu lama. Si orang biasa yang sedikit bicara dan santun ini berhasil menghancurkan belenggu semu berupa kestabilan yang banyak membatasi kemampuan banyak orang.

Sehari sebelum berangkat ke Jerman, saya sempatkan mengajak ia ngobrol di sebuah coffe shop di Pondok Indah. Saya memang tidak mengantarnya ke bandara. Namun saya berdoa semoga dia berhasil.

NL

----------------------------

Tentu saja salut buat dia, yang semangat dan optimismenya menginspirasi banyak orang. Bukan saja pada saat dia pergi, tapi hari-hari sesudahnya pun banyak menggugah perasaan orang. Karena langkah beraninya cukup mencengangkan. Kesuksesannya? Mencengangkan juga. Ini salah satu titik pencapaian dia setelah kepergiannya:

----------------------------

I am a graduate student in pursue of Master of Science in Digital Media degree at International School of New Media in Lübeck, Germany. I also maintain another website that corelated with my study

After 4 months living in Canada doing my thesis research at CIMS, Carleton University in Ottawa, Ontario, Canada, now I am back living in Lübeck to write my Master of Science in Digital Media Thesis.

-----------------------------

Well, he have a great talent and motivation. Everybody who knew him, absolutly said yes. But....in fact need more than that to achieve our ambitions. Di bawah ini ungkapan hatinya, akhir tahun lalu sebelum dia memutuskan kembali ke Indonesia (padahal kl bertahan bisa nonton piala dunia ya hehehe)

---------------------------------

I want to get back on my feet again. I want to be able wake up in the morning thinking about the next greatest thing I want to do today. I want to breath the fresh air of life. I want to say positive words. I want to look out from my window and see the great future lies ahead. I want to fly high and beyond the reach of stars. I want to stand still against the tornado with high confidence that I will survive.

But the fact is I have nothing now. Nothing. I have no life, no money and no jobs. Darn, I can’t even afford one way ticket home just to return home with tail between my legs. And I don’t even know if I could survive for another week with the current life, money and jobless situation. For those who had been advising me to hold on, I can only say thank you but I have to remind you all that you have no freakin’ idea what I’ve been thru here. No freakin’ idea.

It’s been foul air I’ve been breathing in now. Suffocated. It is not fun anymore to wake up without knowing what to do with life anymore. It seems everyday is like a borderline to insanity just waiting to be crossed. It is not a good day anymore when the only thing in my mind every day is how am I supposed to end this misery. It’s almost a month since my last entry complaining about life with no positive thing going on with it. It still the same frustration, the same situation and the same freakin’ condition. I hate it.

I want my life back…

-------------------------------------------------

Hukum naik turun kehidupan, semua orang sudah tahu. Yang tidak semua orang tahu adalah bagaimana tetap memiliki kekuatan dalam kondisi tersulit sekalipun. Sedikit saja, yang menyisakan sekedar nafas untuk tetap berpikir jernih dan keberanian mengambil keputusan dan melangkah kembali. Langkah pertama dia sudah besar, rasanya tidak sulit membuat langkah besar kedua. Prakteknya??

Langkah besar kedua biasanya lebih sulit diambil jika sudah ada efek trauma. Mengapa takut? Karena kebanyakan orang menjadikan suatu pencapaian sebagai titik tujuan akhir. Sehingga ketika terjadi kegagalan seolah hidup runtuh sudah, langkah maju kembali akan terasa jauh lebih melelahkan.

Padahal.. dalam rentang waktu hidup kita, sudah berapa banyak kegagalan yang kita alami, berapa banyak hal-hal yang ingin kita capai tapi tidak tercapai dengan sempurna. Apakah hidup berhenti? TIDAK. Hidup berhenti bagi orang yang memang menginginkannya. Jika kamu tidak menginginkannya, kamu harus menyisakan sedikit, (lebih baik lagi) seluruh yang kamu punya untuk terus melangkah.

Tapi ujian kali ini adalah yang terberat dalam hidupku, aku tidak sanggup lagi, bagaimana??

Sekarang, kita merasa yang terjadi adalah yang terberat. Tahun lalu, tiga tahun yang lalu, saat SMA dst kita juga berpikir hal yang sama. Ketika mendapat masalah besar, selalu saja kita merasa ini masalah terberat dalam hidupku. Sekarang, ketika kita menengok ke belakang, tokh kita masih bisa melanjutkan hidup, ternyata masalah yang lalu bukanlah yang terberat. (Apalagi kalau sekarang bermasalah berat, lagi-lagi masalah yang dialami sekarang terasa jadi masalah terberat dalam hidup).

Jadi, Berhentilah berpikir tentang masalah terberat. Buang jauh-jauh segala keputusasaan. Luangkan waktu untuk mensyukuri apa yang telah kita dapat. Efeknya, kita justru bisa mendapatkan suplai energi positif ketika bersyukur. Atur langkah dan buat keputusan untuk terus melangkah maju. Langkah besar kedua, ketiga dan seterusnya harusnya tidak dijadikan lebih sulit !

-semoga ia sudah menemukan kembali semangat yang selalu ia punya-

0 Comments:

Post a Comment

<< Home