Wednesday, June 07, 2006

Kompensasi Gempa, Lahan Baru Memperkaya Diri..

Semalam nonton economic challenges di Metro TV. Desi Anwar, memikat. Makin matang saja. Menyejukkan hati kedua narasumber. Dan yang terpenting tidak menggugah amarah penonton, walaupun kadang si narasumber agak terbawa emosi, tapi Desi bisa mengarahkan pembicaraan kembali ke koridor semula. Cerdas.

O, ya. Temanya tentang penyaluran dana kompensansi gempa. Yang kabarnya, mencapai sekitar 30 jutaan tergantung kerusakan. 30 juta?? Kira-kira yang akan terjadi bagaimana ya (pilih salah satu) :

  1. Banyak yang ngaku-ngaku rumahnya rusak total (bahkan sengaja merobohkan rumahnya supaya bisa masuk katagori rusak total – yang ini rupanya sudah langsung dipraktekin)
  2. Banyak pejabat (termasuk` pejabat-pejabat kecil` terutama) yang tiba-tiba punya kebijakan sendiri (baca = motong dengan alasan biaya ini itu)
  3. Banyak yang ngaku-ngaku pejabat padahal aslinya lebih dikenal sebagai calo dadakan, ngaku-ngaku punya power dan pengaruh untuk bisa memasukkan nama ke dalam list penerima kompensasi.
  4. Korupsi berjamaah. Jenis ini pasti tidak menyelami esensi berjamaah yang paling mulia, yaitu sholat.
  5. Sedikit orang yang akan memanfaatkan moment ini untuk kepentingan politik tingkat tinggi. Kok sedikit? Aktor intelectual memang biasanya sedikit, yang banyak biasanya korbannya. Untuk jenis ini, tidak ada kata-kata yang bisa dipakai untuk menggambarkannya. Sumpah serapah yang paling buruk pun tidak layak keluar dari mulut kita sekedar untuk menghujatnya. Jadi serahkan saja pada Tuhan yang menggerakkan hati.
  6. Banyak yang menjadi gelap hati demi kompensasi.
  7. Banyak-banyak yang lainnya.

Pilih salah satu? Pilih semua kali...

Jadi, kalau memang bentuk kompensasi tunai begitu banyak mengundang masalah yang lebih besar (ingat, BLT yang 300 ribu itu), pertanyaannya formula apa yang tepat untuk permasalahan ini? Sekedar berandai-andai dari kacamata awam.

Tunai? Bermasalah, apesnya bisa-bisa terjadi kerusuhan. Diberikan dalam bentuk pembangunan rumah, alias dibangunkan? Hmm.. yang ini tetap tidak menutup celah korupsi. Atau diberikan oleh badan khusus yang mengatur pemberian kompensasi? Tetap saja tidak menjamin tidak terjadi korupsi massal.

Jadi apa yang paling tepat??

Jika direnungkan kembali, semua langkah yang diambil selalu penuh resiko. Tinggal pilih resiko yang langsung kena ke masyarakat luas atau hanya dirasakan oleh segelintir orang walaupun ujung-ujungnya masyarakat luas juga yang dirugikan. Minimal misalnya, menghindari perpecahan/kerusuhan. Yang memprihatinkan, mengapa semua resiko itu bisa terjadi di tengah event yang harusnya semua orang tergerak hatinya untuk paling tidak sedikit membantu bukannya malah memperunyam dan menambah penderitaan orang?

Sayangnya, kita hidup di negeri penuh kepentingan.

Kekuatan kepentingan ini terus menggerus hati nurani dan nilai-nilai yang teguh kita pegang sebelumnya. Melalui baju-baju manipulasi, pembetukan opini dan provokasi. Ketika hati sudah tercemar (Aa Gym bilang penyakit kalbu) kita akan marah ketika lapar, lupa kepada sabar. Kita akan ganas ketika melihat orang lain lebih sukses dan kaya, lupa pada introspeksi. Beringas ketika merasa tertindas, lupa berlari pada pencipta ketika cobaan mendera...

Kelihatannya, formula apapun yang akan diambil tetap beresiko untuk dijadikan arena memperkaya diri orang-orang yang tak tahu diri. Bukan pesimis, hanya merasa ironis dan teriris..

Tapi sudahlah, kita semangati saja pemerintah. Jika punya masukan yang bagus, sampaikan saja, bantu kalau bisa. Sudah saatnya kita bekerja sama bukan sekedar duduk diam penuh komentar. Piala dunia tinggal beberapa hari lagi, salurkan saja keahlian kita yang satu itu buat ngomentarin bola :)

Tetap waspada tentunya, supaya kinerja tetap terjaga.

Ah, Indonesiaku. Negeriku tercinta. Kapan kita benar-benar bisa duduk bersama, berjuang bersama. Lagi-lagi, rindu aku pada sapaan ramah nan tulus itu...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home