Monday, June 05, 2006

Melihat Sebuah Pintu - Musashi


Rasanya, jelas butuh lebih dari tiga hari untuk mengeksplorasi Musashi.







Setelah sesumbar akan menghabiskan waktu hanya 3 hari untuk membaca Musashi buku dari seorang sahabat, kini dengan sangat hormat, biar aku tutup mulutku yang sombong ini. Baru sampai halaman ke 600 alias baru setengahnya aku baca, perasaan nikmat ketika membacanya sulit rasanya dilukiskan dengan kata-kata.

Intinya aku menikmati setiap uraiannya, kata-kata dan detil yang terkandung di dalamnya. Kadang menghabiskan satu halaman dengan tercenung-cenung. Sungguh ajaib, bahkan kepekaan terhadap esensi benda meningkat.

Mungkin karena sesungguhnya, saat ini tidak seperti biasanya, aku membacanya dengan sungguh-sungguh, membawa hati dan pikiran benar-benar ke dalamnya.

Saat Musashi digantung di pohon kriptomeria, tak pelak lagi ia jatuh dalam kehinaan dan ketidakberdayaan. Teronggok seperti sampah tak berguna, hilang semua keangkuhan, kebengisan dan keyakinan dirinya. Walaupun dalam kesadarannya harga dirinya naik turun timbul tenggelam. Tapi melihat dunia dari atas sini dalam kondisi yang jelas-jelas terpuruk, membuat kesadaran hakikinya tergugah. Musashi berada di tempat terbawah sekaligus di tempat tertinggi.

Memang lebih mudah untuk menjadi peka, menjadi arif dan penuh perenungan ketika kita dalam posisi yang penuh kesusahan dimana sendi-sendi harga diri kita dibenamkan dan segala kesombongan diruntuhkan. Mudah untuk memahami bentuk-bentuk pemikiran, perasaan, benda-benda dan penghargaan kita akan arti hidup itu sendiri. Mudah pula untuk menyadari akan kebeningan cita-cita.

Yang tidak mudah adalah untuk tetap konsisten pada pencapaian nurani tersebut. Tidak mudah untuk terus menjaga visi kita yang paling menggebu-gebu sekalipun. Perubahan lingkungan, kemudahan-kemudahan, orang-orang yang berbeda lambat laun dapat melunturkan pencapaian nurani. Pada prosesnya, akan muncul riak-riak yang mengganggu yang mengurangi kadar pemikiran dan tindakan kita.

Musashi pun mengalami naik turunnya semangat dalam mewujudkan jalan pedangnya. Cita-cita yang menjadi visi hidupnya. Ia sempat terjebak dalam kesombongan sesaat ketika bertemu orang-orang yang terlihat lebih lemah. Jalan pedang seolah-olah menjadi jalan paling berarti dan dalam perjalanannya ia banyak mengabaikan unsur-unsur lain di luar dirinya. Ia berusaha membentuk jalan pedang dengan lurus-lurus pada keyakinan dirinya, menekan segala perasaan lembutnya dan satu hal yang menyelamatkannya dari bahaya keangkuhan adalah keinginannya untuk membuka pintu-pintu ilmu dan belajar dari segala macam orang, segala macam bentuk dan alam semesta.

Dalam kehidupan ini, bukan sekali kita merasakan naik turunnya iman, naik turunnya semangat baik dalam bekerja, menjaga hubungan, dan meraih mimpi-mimpi kita. Bukan sekali dua kali pula kita terjatuh dan kembali pada kebeningan pencapaian nurani. Terlalu dini untuk menyimpulkan jalan pencapain nurani, ada banyak visi dan lebih banyak konsistensi yang akan diperlukan.

Sebenarnya aku malu membacanya, setiap uraiannya memojokkanku pada kesia-siaan waktu. Menggugah lebih banyak kepekaan dan membuatku makin tertunduk.

2 Comments:

At Monday, June 05, 2006 9:38:00 PM, Anonymous Anonymous said...

Duh.. Gusti, seneng bener baca tulisanmu dear. Rajin2 nulis, tak kamu sadari bisa memberi pencerahan. at least, gw msh bisa menikmati pemikiranmu (wanna more seh, he3x).

Matamu itu lho, dipenuhi kebaikan dan kehangatan yang ingin aku raih (gw juga bisa puitis kan?!)

-secret admirer-

 
At Friday, June 16, 2006 12:00:00 AM, Anonymous Anonymous said...

"budo" yang diartikan dalam buku Musashi sebagai "Jalan Pedang" memang bukan kebenaran yang mutlak. "bu do" semestinya diartikan sebagai "jalan ksatria". Kalau didalam ajaran Islam, sifat ksatria itu selalu ada di tiap diri seorang muslim........ salah satunya...... sami'na wa ato'na, yang artinya "saya dengar dan saya patuhi". Ada hal-hal lain yang patut diambil dari ajaran "bu do" tersebut, dan sepertinya kamu sudah cukup merenunginya.

You always be the best.

enka.

 

Post a Comment

<< Home