Monday, June 05, 2006

Pisau Dapur

by eptia

Maemunah menjatuhkan pisau dapur yang sedetik lalu berkilat-kilat di atas tatapan sepasang mata Munir yang ketakutan. Pisau kecil itu jatuh ke tanah diikuti pandangan mata Munir yang entah kenapa jauh dari perasaan lega. Maemunah merasakan tubuhnya menggigil, ia menatap Munir dengan segala kepedihan, bukan lagi tatapan penuh kemarahan seorang pembunuh.

***

“Bu..”

Maemunah melihat mata Murni berkaca-kaca. Ia membimbing anaknya keluar dari biliknya yang kecil melewati tubuh Munir yang telentang kelelahan. Sekilas Maemunah melihat wajah Munir menjadi sepuluh tahun lebih tua.

Murni mencuri pandang ke arah pisau dapur yang pada titik tertentu telah mengubah hidup mereka. Sepanjang hidupnya ia telah melihat pisau itu menjadi bagian hidup mereka. Ibunya menggunakannya untuk menggiris segala macam sayuran, sesekali daging ayam dan kelinci yang mereka makan. Kadang Ibunya membawanya ke kebun untuk memotong jagung dan sawi. Ia telah mengerti benar bagaimana pisau dapur itu telah menjadi sumber kehidupan mereka. Dan sekarang pisau dapur itu hampir menjadi sumber kematian pamannya.

Murni tidak pernah melihat Ibunya seperti itu, ganas , penuh amarah dan menakutkan. Ia menangis melihat Ibu bergelut dengan pamannya yang hampir tanpa perlawanan. Ia tidak ingin melihatnya. Ia ingin berlari ke luar rumah dan berteriak, tapi bilik kecilnya seakan-akan mencengkeram. Ingin menelannya bulat-bulat. Jadi ia menangis dan meringkuk di sudut bilik.

Maemunah mengajak Murni berjalan menjauhi rumah, melewati kebun-kebun teh yang terpotong rapi dengan kaki mereka yang telanjang. Tubuhnya masih gemetar. Keringat membasahi tubuh dan wajahnya. Ia merasa lelah.

Hari sudah menjelang sore, dari lereng Merbabu ini mereka dapat melihat Merapi yang mulai diselimuti kegelapan. Matahari yang memerah bergerak perlahan-lahan seolah-olah tenggelam ke dalam perut gunung tempat mereka berpijak. Murni selalu menyukai pemandangan ini.

“Matahari tidak pernah tenggelam…”

Murni mendongakkan wajahnya. Ia melihat wajah ibunya yang tiba-tiba terasa asing.

“Ia ada disana. Dalam malam tergelap sekalipun..”

Ia tidak pernah mendengar Ibunya mengucapkan sesuatu yang puitis. Tidak sekalipun. Ibunya jarang berbicara. Raut wajahnya keras dan kuat. Mungkin dulu ia cantik, tapi Murni lebih merasakan kehangatan hatinya. Ibunya selalu tahu apa yang berkecamuk di hatinya. Walaupun kadang ia sangat keras padanya.

“Ingatlah itu selalu, Nak” Suaranya serak dan terasa sangat jauh.

Murni menautkan jari-jari tangannya dan menundukkan kepalanya semakin dalam.

“Aku takut, Bu..”

Maemunah mendengar Murni menangis. Ingin ia merengkuhnya ke dalam pelukan. Memberikan kekuatan yang ia sendiri tidak yakin ia punya. Segala keyakinan dan kekuatan yang dibangunnya selama ini telah runtuh. Ia sendiri ingin menangis.

“Bagaimana kalau…”Murni menahan tubuhnya yang bergetar.

Maemunah tidak ingin mendengar semua pertanyaan yang diawali dengan kata bagaimana. Ia ingin berlari dan menenggelamkan dirinya ke dalam kawah. Ia ingin menenggelamkan dirinya ke dalam tanah. Ia ingin mati dan suaminya saja yang hidup. Ia tidak ingin menghadapi tatapan mata anaknya. Ia tidak sanggup menanggung deritanya.

“Apa aku masih bisa sekolah lagi, Bu?” Kali ini Murni menatap Ibunya. Ia ingin Ibu memberi kekuatan seperti biasanya. Tapi melihat Ibu sekarang, ia merasa takut. Kali ini mungkin mereka tidak akan bisa melewatinya.

“Tentu saja,”

Murni melihat bibir Ibu bergetar.

“Bagaimana kalau..”

“Tidak akan terjadi.”

“Kenapa tidak, Ibu?”

“Kamu masih terlalu muda.”

“Karsih juga baru dua belas tahun, dua tahun lebih muda dari aku. Tapi dia langsung hamil sebulan setelah menikah dengan Pak Marno.”

Marno si bangkot tua itu. Istrinya sudah tiga dan Murni dulu hampir jadi yang keempat. Ia harus bergelut dengan kemiskinan dan terror tersembunyi ketika mempertahankan Murni. Maemunah menghela nafas, bangkot tua itu dipenuhi segala keburukan, tapi entah kenapa orang-orang seperti itu selalu berlimpah harta.

“Bu..” Murni tidak ingin menangis. Ibu tidak suka jika dia cengeng.

“Murni..” Maemunah menelan ludah. Ia bahkan telah memberi nama anaknya murni. Suaminya memberi nama dengan unsur huruf yang sama dengan adik satu-satunya, Munir. Ia juga menaruh harapan besar pada putrinya. Sekarang nama itu terasa semakin mengiris hatinya. Bagaimana jika Murni hamil? Ia sendiri tidak tahu harus bagaimana. Murni sudah mendapatkan haidhnya sejak usianya sebelas tahun. Ia benar-benar tidak ingin memikirkannya.

Maemunah menggenggam tangan anaknya. Ia tidak ingin beranjak pergi walau malam mulai merayap. Angannya menerawang antara harapan yang tersisa dan khayalan yang semakin membubung tinggi. Pengingkarannya pada kenyataan semakin memuncak. Hanya dengan mendengar suara Murni ia dapat merasakan kenyataan kembali.

Maemunah menyadari benar, sejak dulu ia hanyalah seorang perempuan bodoh buta huruf yang dibesarkan di lereng gunung. Ia hanya tahu cara berkebun dan manyalakan kayu bakar di dapur. Sampai ia bertemu dengan suaminya yang memberinya semangat untuk maju. Untuk melihat dunia luar dan menariknya keluar dari tempurungnya. Suaminya yang mengajaknya melihat Borobudur walaupun dengan itu mereka harus menghabiskan seluruh hasil penjualan alpukat mereka dan bekerja lebih keras sesudahnya. Suaminyalah yang menekankan bahwa Murni harus sekolah. Ia tidak boleh buta huruf seperti Ibunya dulu. Sekolah itu berguna. Pasti berguna, ia selalu menegaskan pada malam-malam dimana Murni sedang mengawali pelajaran membaca dan menulisnya. Dengan cara apapun Murni harus tetap dijaga. Dan begitulah suaminya menjaganya selama ini. Bahkan di tengah sakitnya. Bahkan di tengah ajalnya.

-to be continued-

3 Comments:

At Tuesday, June 13, 2006 6:54:00 PM, Blogger rymnz said...

yahh.. koq bersambung... :p:p.
btw salam kenal ;) .. thx juga tempo lalu dah mampir ke gallery(photoblog.kaku-inc.com) kalo mo ambil fotonya silahkan saja ;) ..

 
At Wednesday, July 26, 2006 8:09:00 PM, Blogger rymnz said...

koq ceritanya belum dilanjutin neh >:)

 
At Thursday, July 27, 2006 1:52:00 AM, Blogger eptia said...

hehehe biar penasaran.. (engga dink). Ceritanya sih udah selesai, cuma blm diupload aja. Panjang sih.. Dan blom sempat2.. Makasih ya udah baca :)

 

Post a Comment

<< Home