Wednesday, June 14, 2006

Si Manyun


Ini adalah perkenalan pertamaku dengan si acrilic (cat minyak istirahat dulu sejenak). Pengalamannya? Menyenangkan, terutama saat menggoreskan catnya. Ringan, cepat kering dan.. just fun.

Pagi-pagi sekali, bangun tidur dalam keadaan lelah (ciri-ciri tidur yang tidak berkualitas). Sudah beberapa hari ini tidur nyenyak tapi pas bangun tidak benar-benar segar. Bahkan masih suka korupsi, pas alarm menjerit-jerit tetap saja merem-merem malas. Kasian juga si alarm, tiap pagi dibungkam dengan ganas setelah itu diabaikan. Beda jauh waktu di set malam hari sebelumnya, mudah-mudahan bisa bangun pagi-pagi. Penuh pengharapan baik deh sama si alarm...

Nah, jurus manjur buat bangun pagi ternyata sudah diciptakan dengan sempurna oleh yang MAHA. Alhasil, sinarnya yang lembut hangat menyapa lewat celah-celah jendela langsung menggoda iman. Bangun, buka jendela dan membebaskan cahaya matahari nan sehat memenuhi kamarku.

Lalu melukislah aku. Bermain-main dengan cat yang segera mengotori jariku. Hasilnya, Si Manyun pun kini mejeng menuhin tembok kamar (yang sak-iprit itu). Kenapa manyun?

Tidak tahu juga, soalnya asal corat coret. Tapi setelah dipikir-pikir kok aku familiar dengan bibir manyun ini. Jawabannya baru beberapa hari kemudian.

Bibir manyun my Mom... cintanya aku :)

Mungkin karena sudah lama tidak mendengar kabar dari Mom. Terlalu lama tepatnya, hampir sebulan ini tidak ada telepon atau email sama sekali. Di-sms pun susah. Bikin kuatir setengah mati. Biasanya hampir tiap hari telepon, walaupun kadang suka masih gagap waktu.

`` Loh kok, kamu ga kerja Py?``

``Mom.. disini kan jam sepuluh malem, bukan siang kayak disitu..``

``Trus, kok blom bobo?``

``Aduhh, kan lagi piala dunia...``

Akhirnya, telepon juga semalam. Walaupun sapaan pertamaku jauh dari simpatik.

``Mommy?!! Kemana aja?!! Ga pernah telepon, bikin kuatir ajaaa...``

Aduh, aku menyesal pake ngomong kenceng-kenceng segala. Padahal mungkin mom capek atau kangen setengah mati juga seperti aku. Tapi kalau kita tinggal jauh-jauh, hampir ga pernah bisa ketemu, putus komunikasi itu hal yang paling bikin frustasi. Jadilah permainan andai-andai berkembang liar. Yang paling sering:

Andai mom mau pulang, menetap lagi disini..

Mungkin ini keinginan terbesarku. Merawat Mom, membahagiakan dia. Melakukan segala sesuatu untuk dia. Jadi tidak ada lagi malam-malam aku berpikir-pikir, aku ini tiap hari kerja kesana kemari, capek-capek duitnya buat diri sendiri doank. Memang benar kasih seorang Ibu tak terbayarkan dengan apapun juga, tapi yah... banyak tapinya deh...

Dulu banget, entah berapa tahun yang lalu. Aku minta Mom menetap disini.

``Ga bisa Py, susah kalau harus menetap di Indonesia lagi. Mungkin memang sudah ditakdirkan menghabiskan masa tua di negeri yang jauh. ``

Masa tua? Tidak juga. Kalau dihitung-hitung sudah 18 tahun lebih mom menetap di negeri orang. Jadi boleh dibilang sejak muda donk. Tapi sebenarnya alasan tepatnya mungkin bukan itu. Ini kupahami benar dari beberapa kejadian kecil sewaktu dia menjengukku. Mulanya aku tidak mengerti benar, kalau dia sering merasa bodoh dan merasa tidak `pas` lagi berada disini. Aneh ya, kok bisa Mom seminder itu? Bagiku dia wanita hebat, ibu hebat, teman hebat dan hebat-hebat lainnya...

Jawabannya muncul keesokan paginya di warung kecil tetangga.

``Bang beli krupuknya. 10 berapa ya?``

``Lima ribu. Ambil aja sendiri di blek (toples krupuk) depan Bu.``

Mom kebingungan, diem aja. Aku juga bingung melihat tampangnya yang jadi aneh.

``Tapi bang.. Saya mau krupuk putih, bukan yang black.``

Ahahaha... bundaku sayang...


Besok-besoknya, tambah runyam. Apalagi kalau soal harga, buta sama sekali.
Belum lagi kalau bahasanya campur aduk.

``Bukannya belagu, tapi memang suka belepotan. Jadi tiap mau bicara, dipikir-pikirnya terlalu lama. Ntar disangka orang bego lagi..``

Ah, Mommy. Bukan itu juga alasannya. Well, aku pikir terlepas dari segala macam ketidaknyamanan yang membutuhkan proses adaptasi, Mom sudah lama punya kehidupan sendiri. Begitu juga kami anak-anaknya. Sekian tahun kami hidup sendiri-sendiri, bukanlah hal yang mudah untuk hidup bersama dan langsung merasa nyaman. Aku menyadari benar, Mom sudah punya cara hidup sendiri, lingkungan yang dia nikmati, dedikasi dia dan terutama eksistensinya disana.

Benar keinginan terbesarku adalah bersamanya. Tapi menuntut Mom pulang kesini demi untuk memenuhi kebutuhanku saja, rasanya tidak adil. Sudah cukup apa yang ia telah berikan pada kami. Nilai-nilai yang ia wariskan jauuuhh melebihi apapun juga. Walau kadang tidak setiap hari aku ingat dia, tapi dalam setiap detik pengingatanku, segenap cintaku ada untuknya.

``Mom, pulang ya.. Nanti aku yang cari duit buat Mom.``

``Ga mau ah, nanti kalau kamu sudah mau nikah baru pulang.``

``Udah mau nikah niiih...``

``Ahahaha pembohong besar..``

2 Comments:

At Thursday, June 15, 2006 6:02:00 AM, Blogger rymnz said...

aiihhh... pinter juga melukis ;)

 
At Tuesday, October 24, 2006 12:20:00 AM, Anonymous citra said...

halo,

saya liat lukisan anda pakai acrilic, belinya catnya dimana sih?
saya liat di gunung agung ada 24 warna, tapi saya mau beli satuan warnanya...karena karya yang saya mau hasilkan itu modern, minimalist gitu deh, cuma sapuan2 kuas geto...tapi kanvas saya besar.

pernah ke alila hotel pecenongan? nah contoh lukisannya abstract modern kayak di receptionistnya

thanks seblomnya.
email saya di cicit at rocketmail dot com

thanks
citra

 

Post a Comment

<< Home