Thursday, July 27, 2006

Bercinta Dengan Ara

satu

Aku bertemu Keris, Ara. Di rumah pantai, tempat persembunyian kita. Maafkan aku karena mengajaknya ke tempat kita, tapi aku tidak tahu dimana lagi tempat yang tepat. Aku berciuman dengannya, Ara. Pada saat terakhir matahari memendarkan sinar paling cemerlangnya. Aku bercinta dengannya, Ara. Tepat seperti yang kamu inginkan...

``Naira...``aku merasakan suaraku bergaung di telingaku, bukan seperti suara yang menggaung. Lebih tepatnya seperti ribuan lebah yang berputar-putar di kepalaku dan tidak pernah berhasil keluar dari bibirku. Tapi rasanya nama itu terus berputar-putar di kepalaku.

Sedetik kemudian di antara ambang kesadaranku aku merasakan tanganku basah dan lengket. Bersamaan dengan itu aku merasakan nyeri yang amat sangat menyergap dadaku yang semakin sesak. Aku menggigil kedinginan.

Lalu, dalam gamang yang tak pernah kumengerti aku melihat sesosok tubuh, tergeletak bersimbah darah dengan sebilah pisau masih menancap di dada.

Dan aku melihat tubuh yang lain. Naira, kenapa ia menutupi wajahnya dengan jari-jarinya yang berdarah-darah? Apakah ia terluka?

``Keris... maafkan aku..``

Naira, kenapa kau memanggil namaku tapi memeluk tubuh yang lain? Aku disini Nai, tepat di sampingmu. Aku akan memelukmu Nai, jangan menangis...

****

Selamat pagi Ara. Aku terbangun dengan gelisah, seperti biasanya susu hangat ternyata tidak banyak menolong. Hari ini aku bertemu dengan beberapa klien. Tidak akan terasa melelahkan kalau saja aku tidak harus bertemu Keris. Aku lelah, Ara. Lagi-lagi aku merasa tersesat..

Pipi Bunda terasa lembut dan hangat. Ia semakin cantik saja setiap harinya, bahkan kerut-kerut di sudut matanya semakin menguatkan kecantikannya. Aku meninggalkan jejak basah di pipinya dengan ujung lidahku, segera tawa renyah favoritku memenuhi udara pagi berselimut aroma roti panggang Bunda.

``Jadi, pulang malamnya, Nai?``

``Mudah-mudahan tidak terlalu malam, Nda. Nai kurang semangat hari ini.``

Bunda tersenyum, hangat seperti biasanya. Aku ingin terus memeluknya dan tidak usah pergi ke kantor saja.

``Nanti kalau udah sampai kantor, kamu pasti semangat seperti biasanya. Liat aja, paling-paling nanti sore kamu sudah telepon tidak bisa makan malam di rumah.``

``ahahaha... Nai berangkat dulu yah. Nda mau dibawain apa nanti?``

``Coba bawain anak gadis satu lagi yang semanis kamu, yang bisa tinggal di rumah setiap hari.``

Aku berbisik di telinganya, wangi rambut Bunda memenuhi ujung hidungku. ``Nda pasti ga akan suka anak gadis yang lain, tidak ada yang bisa semanis Nai, bukan?``

Tawa kami berdua terus terngiang sepanjang perjalanan ke kantor yang macet dan basah. Hujan mengguyur sejak pagi, tidak malu-malu lagi menghajar mobilku yang baru kemarin dicuci.

Aku capek menyetir sendiri Ara. Aku kangen menyentuh tanganmu saat menyetir. Menyentuh ujung rambut di tengkukmu. Mencuri-curi cium di pipimu...

``Keris? Keris... yang senjata kuno itu?

``Iya betul, itu nama sebuah senjata. Tapi tidak sekuno caramu mengerutkan jidat Naira.``

``uhm.. well, kenapa namamu Keris??

``uhmm ... well, sebenarnya aku masih satu garis keturunan dengan Empu Gandring,``ia berhenti sebentar, masih dengan tampang serius menarik nafas dan menghembuskannya dengan hati-hati.``Tapi kamu tidak perlu mengagumi aku karena Empu Gandring,`` dia tersenyum lebar, memamerkan giginya yang putih bersih.

Entah kenapa aku tertawa lepas. Baiklah, kurasa orang ini cukup menyenangkan untuk bekerja sama denganku.

``OK, back to our business. Aku ingin report semua program yang sedang berjalan dan plan 6 bulan ke depan ada di mejaku siang ini. O,ya berita baiknya dengan begitu aku akan jadi atasanmu sampai satu tahun mendatang. Berita baiknya lagi, mungkin kita bisa mengawalinya dengan lunch bareng siang ini,`` ia tersenyum. Senyum paling memikat yang aku lihat hari ini.

Aku terhenyak, terlalu kaget untuk mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutku.

``Tidak bisa, aku sudah ada acara lunch dengan orang lain.`` Dia pasti dapat menangkap suaraku yang sedikit gemetar.

``Jam 12, aku tunggu di lobby. Jangan lupa bawa berkas-berkas yang aku minta tadi.`` Dia melenggang pergi tanpa menunggu jawabanku.

Damn!

Aku menggigil kedinginan lagi Ara. Mungkin kamu bisa memelukku nanti malam. Dengan sedikit amarahmu juga tidak apa-apa. Aku hanya ingin merasa nyaman.

``Jadi bagaimana, bisa dinner tidak?``

``ehm.. rasanya tidak, Bunda sendirian di rumah.``

``Bukannya selalu sendirian? Lagipula ada siapa itu, Bibir Mer, eh bibi Mirah bukan?``

``Bunda butuh ditemani anaknya tokh, bukan orang lain?``

``Jadi tidak bisa??``

``Kalau aku bilang tidak, sebentar lagi juga kamu akan menggunakan kekuasaanmu sebagai bos kan?``

Dia tersenyum, senyum yang paling aku benci seminggu ini.

``Kamu makin pintar saja Nai.``

``Tapi sekarang benar-benar tidak bisa. Aku tidak peduli kamu keturunan empu Gandring atau siapalah itu. Aku ada acara lain.``

``sepenting apa?``

``Penting sekali.``

``Acara apa itu yang begitu penting?``

``Bercinta.``

(eptia)

4 Comments:

At Thursday, July 27, 2006 11:49:00 PM, Anonymous Paul Ardhi said...

masih berlanjut niii???
ditunggu lanjutannya
^-^

 
At Friday, July 28, 2006 1:21:00 AM, Anonymous Anonymous said...

abis baca tiba2 aku jadi kepengen nulis:

Cintamu menyentuh semua yang kau sentuh . Tumbuhlah seperti keinginanmu yang mulai indah.
-yannov-

 
At Friday, July 28, 2006 1:26:00 AM, Anonymous yannov said...

Comment???

Cintamu menyentuh semua yang kau sentuh. Tumbuhlah seperti keinginanmu yang mulai indah.
-yannov-

 
At Tuesday, August 01, 2006 4:17:00 AM, Anonymous Anonymous said...

27 Juli 2006, tepat 66 tahun usia ayahku kalo beliau masih hidup.

Pada hari itu aku bergulat dengan memorinya..... kue kesukaannya yang lupa kubelikan pada hari akhir hayatnya.

Tapi hari itu aku juga bergulat dengan memori seorang gadis yang hingga saat ini masih meletakkan aku dalam bingkai pikirannya.

Mungkin bulan depan atau bulan depannya lagi atau tahun depan.... semoga aku dapat dilepaskan dari bingkai itu nanti.... semoga 27 Juli tahun depan....... semoga

enka

 

Post a Comment

<< Home